Penilaian Debat Kedua Pilpres 2019: Prabowo Unggul di Sesi Penyampaian Visi, Jokowi Unggul Dalam Sesi Eksplorasi
Disclaimer:
Berikut adalah penilaian debat Pilpres 2019 kedua secara ringkas yang saya buat seiring dengan jalannya debat. Penilaian ini saya rilis 5 menit pasca debat selesai.
Penilaian lebih berfokus pada aspek komunikasi politik. Secara teknis, penilaian dilakukan per pertanyaan. Bukan per sesi. Sistem penilaian mirip dengan skoring dalam pertandingan tinju: pemenang Ronde mendapat angka 10, sedangkan yang kalah mendapatkan angka 9. Bedanya, tidak ada hasil KO dalam penilaian ini.
Penilaian pertama: Umum.
Debat berlangsung lebih menarik dengan eksplorasi yang lebih dalam dan komunikasi antar kandidat yang lebih mengalir. Pertanyaan yang dibuat panelis sangat menarik dengan mengambil tema yang cukup spesifik, " tidak umum dalam politik Indonesia " namun merupakan masalah nyata di Indonesia. Apresiasi untuk KPU dan Tim Panelis.
Pada penyampaian visi misi, Prabowo berhasil memanfaatkan kesempatan dengan baik untuk memaparkan visi misi dengan baik. Meskipun semua terdengar populis dan serba "wah" namun lebih terasa ear catching. Kekurangannya adalah pada bagaimana Prabowo bisa mewujudkan semua itu dalam turunan yang feasible.
Jokowi agak kurang "nendang" pada awalnya. Keunggulannya ada pada pemaparan prestasi dan kinerja dalam bidang-bidang energi, infrastruktur, pangan dan lingkungan hidup. Namun cara penyampainnya kurang "ear catching".
Skor saya: 10-9 untuk Prabowo.
Sesi Kedua: tema infrastruktur
Jokowi lebih baik dalam menyampaikan jawaban meskipun sempat "lambat panas". Indikatornya dari data-data dan turunan visi yang bagus.
Prabowo kurang fokus dan agak kesulitan menjawab. Jika dilanjutkan dalam debat terbuka, prabowo akan sangat kesulitan.
Skor saya: 10-9 untuk Jokowi.
Tema : ekonomi 4.0
Jokowi mulai menguasai panggung. Ia bisa bermain relatif seimbang dalam tataran visi, misi dan strategi bahkan juga teknis. Jokowi lebih ear catching untuk millenial dan kalangan terdidik.
Prabowo tidak fokus, ia cenderung ingin bermain di lingkup yang lebih gampang dipahami oleh kalangan bawah. Prabowo lebih mudah dipahami kalangan masyarakat bawah dan kalangan ibu-ibu.
Skor saya:10-9 untuk Jokowi.
Soal kelapa sawit
Prabowo menawarkan solusi yang sebenarnya sudah dijalankan dan sesuatu yang sebenarnya konsepnya sudah umum.
Jokowi berhasil menjawab dengan tepat yang membuat Prabowo kurang bisa menyerang sisi lemah Jokowi. Meski Prabowo kalah, dampak keberhasilan Jokowi dalam tema ini terhadap naik turunnya suara masih harus didalami.
Skor saya: 10-9 untuk Jokowi.
Tema Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup
Topik: pencemaran lingkungan
Prabowo masih kesulitan bermain dengan iramanya sendiri. Tawaran law enforcement dalam bidang lingkungan patut diapresiasi. Sayang Prabowo tidak menurunkannya dengan baik. Pun tidak mampu menyerang sisi lemah pelaksanaan kebijakan lingkungan hidup Jokowi.
Jokowi berhasil menjawab dengan baik dan menikmati keuntungan dari kurangnya kemampuan Prabowo menyajikan data dan argumen yang kuat.
Skor saya: 10-9 untuk Jokowi.
Reformasi Agraria:
Jokowi kembali bermain di level strategi dan bahkan teknis dengan penguasaan data yang cukup baik untuk mendukung visinya. Jokowi juga berusaha melakukan "skak mat" dengan mengungkit data penguasaan lahan Prabowo ketika calon no 2 itu berusaha menyerang Jokowi soal reformasi agraria yang dianggap menguntungkan aktor kuat.
Prabowo berusaha menyerang Jokowi namun tidak berhasil sampai pada sisi yang lebih strategis. Namun retorikanya dengan mengangkat Pasal 33 UUD 1946 menarik bagi publik.
Skor saya: 10-9 untuk Jokowi.
Sesi Eksplorasi
Prabowo berusaha mengangkat tema "aktor kuat" vs "rakyat jelata". Namun sayang serangannya kurang "nendang" karena kurangnya data dan eksplorasi argumen yang baik. Jokowi mesti di atas angin namun juga tidak mampu melakukan eksplorasi dengan baik. Sebenarnya banyak sisi lemah Jokowi yang bisa diserang Prabowo dalam tema ini.
Topik : pengelolaan SDA maritim untuk kesejahteraan
Jokowi menekankan bahwa laut adalah masa depan Indonesia. Ia secara khusus menyebutkan penegakkan hukum terutama illeal fishing, pemanfaatan kekayaan offshore dan TOL Laut. Jokowi unggul lagi dalam sisi argumen dan data.
Prabowo menekankan kurangnya akses modal dan teknologi dan pembatasan regulasi terhadap rakyat kecil. Ia menawarkan pendirian BUMN khusus kemaritiman dan pemberdayaan.
Untuk tema ini saya kembali menyayangkan ketiadaan kemampuan eksplorasi Prabowo untuk menyerang sisi lemah Jokowi.
Skor saya 10-9 untuk Jokowi.
Sesi Keempat: Tanya Jawab Antar Capres
Pertama:
Prabowo mengangkat tema nasionalisme dan proeksionisme Ekonomi, khususnya impor pangan. Jokowi berhasil menjawab dengan baik dengan basis data yang harus diapresiasi. Prabowo berusaha menekankan kembali stategi ia ia sebut sebagai "ekonomi untuk rakyat". Retorika ini cukup baik dampaknya bagi petani. Jokowi menjawab dengan membelokkan kepada keseimbangan tapi tidak menjawab sepenuhnya pertanyaan Prabowo soal kebijakan impor pangan di tengah musim panen. Skoringnya susah untuk sesi ini.
Skor saya 9-9.
Kedua:
Pertanyaan Jokowi cukup baik dengan mempertanyakan infrastruktur untuk memfasilitasi unicorn. Prabowo menyinggung kesulitan bisnis online soal pembatasan unicorn. Jokowi mengembalikan pada rel pertanyaan yang ia ajukan. Ia kembali sangat unggul dalam hal data dan informasi yang mendukung argumennya. Prabowo kehilangan fokus untuk menjawab pertanyaan Jokowi dengan mengalihkan pada nasionalisme ekonomi. Prabowo khawatir unicorn akan mempercepat disparitas.
Skor saya 10-9 untuk Jokowi.
Sesi closing statement:
Prabowo memuji Jokowi namun kembali menekankan retorika nasionalisme ekonomi dan "keberpihakan pada rakyat kecil".
Jokowi menekankan modalnya dalam memerintah. Ini yang membuatnya berhasil mewujudkan nasionalisme ekonomi yang menjadi retorika. Ia kembali menekankan keberaniannya untuk mewujudkan itu.
Secara keseluruhan , saya menilai Jokowi unggul jauh dalam debat ini. Namun retorika Prabowo tetap menarik bagi sebagian rakyat terutama untuk kalangan petani, ibu-ibu dan beberapa kalangan lain.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusYang jelas bukan ibu-ibu seperti saya.
Hapus