MALAM TAARUF MUNAS IX MUI
Kesan orang luar terhadap Majelis Ulama Indonesia (MUI) seringkali salah. Selama ini MUI sering digambarkan sebagai organisasi yang "menyeramkan" dan "kolot". Sering juga MUI distigmakan sebagai organisasi tokoh-tokoh agama yang jumud dan kaku.Media berperan penting dalam membentuk itu.
Sekali lagi kesan itu tidak selalu tepat meski mungkin punya kadar kebenaran tertentu tergantung perspektif kita. Kekurangtepatan itu setidaknya nampak pada Malam Taaruf pra-Munas IX di Hotel Grand Palace, Surabaya, 24 Agustus 2015 yang lalu. Saya tiba agak lambat di tempat acara. Ruangan seluas kira-kira 1000 meter persegi itu sudah penuh dengan peserta munas ditambah tamu undangan, insan pers dan asisten peserta atau asisten tamu macam saya. Tidak tampak ada kursi kosong yang tersisa, jadi saya memutuskan untuk berdiri sajadi belakang panggung utama.
Ruangan tempat acara itu sendiri sebenarnya cukup luas, tapi melimpahnya peserta dan tamu membuatnya terasa sempit. Bentuk ruangannya mirip huruf L dengan luas antar bagian kurang lebih sama. Agak aneh juga melihat panggung utama tempat para tokoh nanti berpidato berpunggungan dengan pintu tempat saya masuk tadi. Jadi ketika saya masuk, saya bukannya ada di depan panggung tapi justru berada di belakang panggung. Panngungnya cukup sederhana, hanya merupakanpanggung buatan ang tingginya sekitar 40-50 cm dari lantai dengan latar belakang sebuah spanduk atau baliho besar bertuliskan Munas MUI IX berikut temanya dan lokasi diselenggarakannya. Ada mimbar kecil dengan mikropone yang besarnya cocok untuk ukuran mimbar itu. Di situlah nanti tokoh-tokoh yang diundang akan menyampaikan sambutannya.
Di depan mimbar, terdapat meja-meja bundar dengan kursi-kursi mengelilinginya. Meja dan kursi yang itu untuk tamu-tamu kehormatan acara ini. Kursi-kursi peserta biasa ada di belakangnya, terdiri dari barisan-barisan kursi layaknya di tempat pertemuan manapun di Indonesia. Di bagian depan, hanya sekitar lima meter di sebelah kiri panggung utama terdapat meja konsumsi yang menyediakan makanan dan minuman yang menurut saya ala kadarnya. Dibandingkan dengan acara-acara selevel itu yang pernah saya temui, makanan dan minuman yang disediakan memang cukup sederhana. Hanya ada nasi rawon dan gorengan serta kerupuk ditambah makanan kecil berupa kue yang entah apa namanya dan snack daging ayam kecil yang dibentuk mirip seperti paha ayam kecil yang saya juga tidak tahu namanya. minumannya hanya berupa air putih. Selain itu ada juga kaleng-kaleng minuman larutan penyegar yang mereknya semua sama. Saya tidak tahu apakah itu minuman dari sponsor atau bukan.
Para kyai, ustadz, intelektual muslim di tempat itu sungguh tampak seperti orang biasa. Pakaian mereka beraneka rupa. Sebagian tampil dengan suasana etnis tempat mereka berasal seperti memakai sarung, tenunan atau batik dan peci bercorak budaya masing-masing. Yang laki-laki sebagian besar mengenakan peci khas Indonesia berwarna hitam dan bersarung atau bercelana panjang. Sarung atau celana panjang itupun tak nampak cingkrang, beberapa bahkan nampak sampai menyentuh tanah atau ujung sepatu dan sandal. Ukuran celana dan sarung yang sampai sangat bawah itu tentu berbeda dengan yang dipakai kelompok Salafi, Jammah Tabligh atau kelompok-kelompok fundamentalis lainnya. Hanya sedikit sekali-setahu saya hanya satu atau dua orang saja-yang memakai pakaian bernuansa Timur Tengah seperti gamis dan surban.
Sementara itu, ibu-ibu ustadzah, nyai atau sebutan semacamnya juga tampil "Indonesia banget'. Sebagian besar mereka memakai kerudung khas Indonesia, kerudung yang sering kita lihat di gambar-gambar macam tokoh zaman dahulu seperti Rasuna Said, Nyai Ahmad Dahlan dan seterusnya. Sebagian lain mengenakan hijab atau jilbab seperti yang umum dikenakan saat ini, tapi tidak nampak jilbab lebar-yang benar-benar lebar seperti dipakai kelompok-kelompok yang lebih fundamentalis. Tidak nampak sama sekali peserta yang memakai cadar. Sebagian besar peserta terlihat sebagai sosok yang sederhana. Namun demikian nampak juga wajah-wajah dan penampilan yang terlihat aristokratis, mungkin kyai, ustadz, nyai atau tokoh dari kalangan pengusaha. Namun demikian penampilan mereka tidak terlalu mencolok, cukup wajar untuk hadir dalam munas para ulama dan intelektual muslim.
Pidato-pidato yang kemudian disampaikan cukup segar. Para pembicara terdiri dari tuan rumah yang diwakili KH Abdussomad, Sekjen MUI, Wagub Jatim Saefullah Yusuf, Ketua DPD RI Irman Gusman dan ditutup Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan. Tiga pembicara utama sangat kental nuansa NU-nya: santai namun bernas dan benar-benar menghibur karena diselilingi oleh guyonan khas kyai yang matang berdakwah di semua kalangan. Meskipun Saefullah Yusuf adalah seorang politikus, tapi latar belakang sebagai"elit' di kalangan nahdliyin dan tentu saja kenyang di pesantren membuatnya bisa mengimbangi performance dua pembicara pertama yang luar biasa. Tema ketiganya berkisar antara sambutan terhadap para tamu, fenomena sosial politik dan harapan-harapan terhadap kiprah ulama serta intelektual muslim pada Bangsa dan negara. Cara bertutur yang renyah dan mengalir dengan bumbu humor yang walaupun terdengar sederhana, mampu membuat suasana khas Indonesia yang guyub tercipta. Saya tidak menjumpai suasana itu di acara-acara serupa di negara-negara Timur Tengah yang lebih bernuansa formal dan kaku.
Berkat para pembicara itu saya benar-benar merasa ada di Indonesia, berasa seperti berada di acara pengajian di kampung-kampung. Berisi namun tidak terkesan menggurui. Tidak ada kesan mendogma atau mengindoktrinasi seperti yang saya rasakan di ceramah-ceramah kelompok tertentu. Mungkin inilah wujud dari Islam Indonesia, Islam yang mengajak, bukan Islam yang menghujat. Nuansa persuasif yang halus dan menyentuh ini memanjakan jiwa Jawa saya yang dibentuk oleh nilai estetika Jawa. Tepatlah kiranya tema yang diusung dalam Munas kali ini: Islam Washatiyah untuk kemanusiaan yang berkeadilan dan beradab.
Pembicara selanjutnya, Ketua DPD dan MPR RI lebih bergaya seorang politikus dan ketua lembaga tinggi negara. Tentu saja gaya mereka berbeda dengan gaya Jawa para pembicara sebelumnya karena memang keduanya berasal dari sumatra, namun tetap punya nuansa keakraban yang sama.isi pidato mereka lebih banyak berkisar soal kondissosialak-ekonomi politik, harapan kepada civil society dan kerjasama antar ulama dan umara. Zulkifli Hasan menambahkan pula tentang perlunya satu kerangka pembangunan nasional seperti konsep GBHN di masa lalu.
Sebelum acara selesai rupanya ada yang sudah mengambil makanan sehingga saya dan beberapa yang hadir kecewa mendapati kuali rawon sudah tidak berpenghuni kecuali kuah. Malu-malu saya menunggu acara selesai untuk bisa mengambil makanan ringan yang disajikan. Setelah acara benar-benar selesai dan tamu dipersilakan mengambil hidangan, barulah kita makan bersama. Sekali lagi nuansanya jauh dari budaya makan formalis religius. Biasa saja, sebagin ada yang duduk, sebaian lain makan dan minum sambil berdiri dan bercakap-cakap dengan akrab. Persis acara makan di acara pertemuan-pertemuan yang lain.
Komentar
Posting Komentar