Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Faisal, Sri, dan Salah Kaprah Kedaulatan

(Isto Widodo) “Kalau ada pengamat menyampaikan bahwa yang diperjuangkan dan dilakukan oleh pemerintah dibawah Presiden Jokowi adalah tindakan dan keputusan Goblok, saya hanya ingat nasihat almarhum Ibu saya: Seperti pohon padi, semakin berisi semakin merunduk, semakin kosong semakin jumawa…” Kalimat itu ditulis oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani, dalam akun facebooknya. Publik segera mengaitkan tulisan itu dengan pernyataan ‘seorang pengamat’ yang menyebut pembelian saham atau divestasi Freeport sebagai sesuatu yang ‘goblog’. Sangat mungkin nama pengamat itu Faisal Basri, atau begitulah yang disebut netizen. Beberapa media menulis wawancara mereka dengan Bang Faisal dan menekankan kata ‘Goblog” tadi. Kata itu bahkan juga dipakai sebagian media, termasuk media yang mengatasnamakan agama tertentu, sebagai judul agar memancing komentar, kegaduhan publik atau apapun namanya. Semakin gaduh semakin menarik beritanya dan tentu saja membuat meraup potensi uang menjadi semakin bes...

Kitab Suci, Fiksi dan Imajinasi

(Isto Widodo) Kata fiksi mengambil perhatian. Bang Rocky Gerung memulainya. Ia mengatakan bahwa kitab suci adalah fiksi. Lalu disahut oleh berbagai pro dan kontra di kalangan netizen yang ‘mendadak jadi filosof’. Yang pro mengatakan bahwa fiksi lain dengan fiktif. Yang kontra mengatakan bahwa fiktif itu kata sifat yang mengacu pada fiksi itu sendiri, yang kurang lebih artinya tidak nyata dan imajinatif. Negatifnya dikatakan bahwa fiksi itu “boong-boongan”. Puthut Ea membalas dalam tulisannya di Mojok.co. Isi gampangnya begini: “ngawur aja mengatakan bahwa fiksi itu negative, boong-boongan.” Kata dia, fiksi itu produk imajinatif yang menggerakkan peradaban, yang menyelamatkan manusia, yang membuat manusia bisa beradaptasi dan survive di dunia yang terus berubah ini. Bahkan emua produk teknologi baik teknologi ‘keras’ maupun teknologi social juga berkaitan dengan penggunaan imajinasi manusia. Saya termasuk netizen yang mendadak jadi filosof tadi, dan saya sepenuhnya s...

Reliabilitas Pengukuran 100 Hari Jabatan Kada

Pekan ini 100 hari jabatan Anies-Sandi  ‘diperingati’ oleh publik. ‘Peringatan’ itu menjadi semakin panas berkaitan dengan penampilan Anies di Mata Najwa Selasa kemarin. Terlepas dari pro-kontra soal itu, sudah lama timbul pertanyaan mengenai pengukuran 100 hari kinerja tersebut. Ini dua diantaranya, yaitu: pertama ,  sejauhmana reliabilitas pengukuran kinerja 100 hari sebagai acuan untuk menilai (atau bahkan menghakimi) kinerja secara keseluruhan? Kedua , apakah pengukuran kinerja 100 hari reliable untuk semua kondisi? Tulisan ini akan membahas pertanyaan kedua dalam konteks kepala daerah di Indonesia. Awal Mula Rooselvetlah yang memulai.  Ketika  itu ia menjanjikan akan ada perubahan drastis pada 100 hari kepemimpinannya yang waktu itu dalam suasana depresi besar ( Great Depression ). Sejak pernyataan Rooselvet itu, banyak analisis yang menggunakan batas waktu 100 hari untuk melihat kinerja presiden. Mulanya sebagai komparasi, namun akhirnya menjadi se...