Langsung ke konten utama

Kitab Suci, Fiksi dan Imajinasi





(Isto Widodo)

Kata fiksi mengambil perhatian. Bang Rocky Gerung memulainya. Ia mengatakan bahwa kitab suci adalah fiksi. Lalu disahut oleh berbagai pro dan kontra di kalangan netizen yang ‘mendadak jadi filosof’. Yang pro mengatakan bahwa fiksi lain dengan fiktif. Yang kontra mengatakan bahwa fiktif itu kata sifat yang mengacu pada fiksi itu sendiri, yang kurang lebih artinya tidak nyata dan imajinatif. Negatifnya dikatakan bahwa fiksi itu “boong-boongan”.

Puthut Ea membalas dalam tulisannya di Mojok.co. Isi gampangnya begini: “ngawur aja mengatakan bahwa fiksi itu negative, boong-boongan.” Kata dia, fiksi itu produk imajinatif yang menggerakkan peradaban, yang menyelamatkan manusia, yang membuat manusia bisa beradaptasi dan survive di dunia yang terus berubah ini. Bahkan emua produk teknologi baik teknologi ‘keras’ maupun teknologi social juga berkaitan dengan penggunaan imajinasi manusia.

Saya termasuk netizen yang mendadak jadi filosof tadi, dan saya sepenuhnya setuju dengan Mas Puthut Ea. Fiksi yang merupakan turunan dari imajinasi janganlah diletakkan dalam makna peyoratif, makna yang ‘dijelek-jelekkan’. Imajinasi adalah kekayaan hakiki manusia. Tanpa imajinasi, manusia tidak lebih dari mesin mati atau minimal mesin yang hanya menjalankan tugas rutin, tak mampu merekayasa, tak mampu ‘mengakali’ jika terjadi hambatan dan kendala.

Saya senang sekali dengan kartun Spongebob Squarepants. Kartun itu mengajarkan banyak hal pada kita, termasuk imajinasi tadi. Ada salah satu episode kartun ini yang khusus menekankan pada imajinasi (meskipun sebenarnya secara keseluruhan kartun ini sangat menekankan hal itu sih). Nampaknya Spongebob adalah salah satu kritik terhadap dunia modern yang menempatkan manusia hanya sebagai salah satu dari rantai mesin produksi. Kartun ini melihat manusia sudah berubah menjadi robot. Atau, dalam perspektif lain, sudah menjadi hamba dari artificial necessities yang dikreasikan oleh kapitalisme. Manusia kehilangan kemerdekaannya. Ia bahkan lupa caranya berimajinasi, lupa cara menikmati dan menciptakan fiksi tadi. Dampaknya ya itu tadi, manusia tidak lagi jadi manusia. Kebahagiaan manusia sangat tergantung dari kepuasan materialistis, lupa akan makna kebahagiaan yang sebenarnya. Padahal, menurut Spongebob, kebahagiaan ya kebahagiaan itu sendiri. Anda bisa menemukan kebahagiaan dimana saja, tanpa harus tergantung pada sesuatu. Anda bisa bahagia hanya dengan kardus bekas, anda bisa menemukan kebahagiaan dalam gelembung udara, anda bahkan bisa menemukan kebahagiaan dalam ketidakberuntungan anda. Modalnya adalah imajinasi tadi. Dengan kata lain, semua itu tidak akan anda bisa anda rasakan tanpa imajinasi.

Sama dengan yang ditulis Mas Puthut Ea, Spongebob juga menyatakan bahwa imajinasi adalah dasar bagi teknik rekayasa baik rekayasa yang ‘benar-benar teknik’ maupun rekayasa social. Tapi intinya, itulah peran penting imajinasi dalam peradaban manusia. Manusia modern semakin menyadari ini. Setelah masuk pada masa kapitalisme dan kemudian masa hypercapitalism, orang-orang modern ini mengalami apa yang sering disebut oleh para pendakwah sebagai “kekeringan spiritual”. Sama seperti kritik Spongebob tadi, manusia berusaha mencari sesuatu yang hilang dari dirinya yaitu peran imajinasi tadi. Sebagai pelariannya ada yang masuk mendalami agama lagi. Tidak heran Islam, Hindu, Buddha dan banyak agama maupun ajaran mengenai supreme power lain menjadi sangat laku. Ada pula yang lari pada spiritualitas humanisme dan ekologis dengan lebih banyak melakukan bakti social, memelihara alam, menjalani gaya hidup masa lalu dan sebagainya.


Imajinasi Siapa?
Jadi intisari dari apa yang saya uraikan di atas adalah, ya saya setuju dengan apa yang ditulis oleh Mas Puthut Ea dan juga Spongebob. Imajinasi dan fiksi itu tidak seburuk yang dikatakan oleh sebagian netizen itu. Tulisan mas Puthut yang membela citra imajinasi itu benar dan tepat.

Tapi marilah kita kembali pada perdebatan yang sebenarnya tentang apakah ‘kitab suci itu fiksi atau bukan’? Baik sebelumnya kita sepakati pada definisi fiksi yang oleh kedua belah pihak mengacu pada kamus yang gampanya  mengatakan bahwa fiksi adalah produk  imajinasi. Artinya PRODUK IMAJINATIF BUKANLAH PRODUK DARI INDUKSI ATAS KEJADIAN-KEJADIAN EMPIRIK. Fiksi tidak dihasilkan dari sesuatu yang benar-benar terjadi. Saya sepakat pula dengan definisi itu.

Pertanyaan selanjutnya adalah, kalau kitab suci merupakan produk yang diturunkan dari imajinasi, lalu siapa yang melakukan atau mempunyai imajinasi itu? Siapa subyek yang berimajinasi sehingga menghasilkan kitab suci itu? Apakah kitab suci merupakan produk dari imajinasi manusia? Atau imajinasi Tuhan?

Pertama, marilah coba telaah jika Tuhan, agama dan kitab suci adalah produk imajinatif alias fiksi dari manusia.

Filsafat agama dalam bahasa yang sederhana mengatakan bahwa Tuhan adalah produk dari imajinasi manusia itu sendiri tentang adanya kekuatan supreme yang berada di atas segala-galanya, menentukan nasib dan menjalankan dunia dengan segala isinya. Tuhan dalam filsafat agama adalah produk kebudayaan manusia. Demikian juga dengan agama. Tujuannya adalah untuk melakukan sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai social agar kehidupan social tersebut menjadi baik atau ideal. Ajaran tentang ketuhanan dan agama dalam perspektif filsafat agama adalah salah satu rekayasa atau teknologi social yang bertujuan menciptakan keteraturan, ketertiban dan kesiapan social menghadapi sesuatu yang mengancam. Ia adalah produk dari imajinasi manusia untuk kepentingan manusia itu sendiri.
Dengan cara pandang seperti itu marilah kita jawab pertanyaan di atas: jadi, apakah kitab suci merupakan fiksi alias produk imajinatif manusia?

Dalam perspektif filsafat agama jawabannya ya. Dan, Rocky Gerung tidak salah dan tidak bisa dipersalahkan. Ia berbicara dalam kapasitas dan kedudukannya sebagai seorang yang menguasai ilmu filsafat.

Tentu jawabannya akan berbeda jika kita memakai perspektif agama-agama, terutama agama samawi. Pasti jawabannya akan: “ Bukan, agama Bukan produk imajinasi manusia. Ia diturunkan oleh Tuhan!” artinya agama adalah sesuatu yang taken for granted, terberikan, bukan hasil olah cipta imajinasi/rasionalitas manusia. Itulah sebabnya agama itu suci. Jika merupakan produk rasionalitas dan imajinasi manusia tentulah ia bisa dikritik. Begitu kurang lebih jawaban dari penganut agama.

Lalu, marilah kita masuk dalam scenario kedua yang mengatakan bahwa: Tuhan adalah subyek dari pembuatan Kitab Suci yang disebut sebagai fiksi itu. Dengan kata lain, Tuhanlah yang berimajinasi sehingga menghasilkan produk fiksi bernama kitab suci itu. Karena Tuhan Maha Mencipta dan untuk berkreasi dibutuhkan imajinasi, baiklah mari kita coba terima bahwa Tuhan juga Maha Imajinatif.

Tapi, pertanyaan selanjutnya adalah apakah yang tertulis dalam kitab suci itu benar produk dari imajinasi alias bukan merupakan rekaman dan induksi dari sesuatu yang empiric alias benar-benar terjadi? Apakah kisah Nuh, kisah Ibrahim dan lain-lain dalam kitab suci itu tidak sebenarnya terjadi? Atau benar terjadi tapi dikelola sedemikian rupa sehingga menarik untuk dibaca? Atau benar terjadi sebagian dan sebagian lain tidak benar-benar terjadi?

Pertanyaan ini menimbulkan konsekuensi serius bagi pemeluk agama, apalagi mereka yang fanatic dan fundamentalis karena dampaknya pada dekonstruksi dari ajaran agama itu sendiri. Dalam filsafat agama, dekonstruksi ajaran agama adalah hal yang sangat biasa, bahkan jadi bahasan sehari-hari. Tapi, bagi penganut agama apalagi yang tekstualis, ini akan berdampak secara mendasar.

Penutup
Dalam sejarah Islam terdapat salah satu episode kelam dimana terjadi pemberangusan, persekusi hingga pembantaian kepada ulama-ulama dan pengikutnya. Dalam aspek ideologis sebabnya satu: ada satu pihak yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk alias ciptaan Allah, da nada pihak lain yang mengatakan bahwa Al-Qur`an itu perkataan Allah yang artinya tidak terpisahkan dari Allah itu sendiri. Pertentangan itu terjadi dikalangan ahli agama hingga pada perseteruan politis. Agama beserta madhzabnya memang merupakan alat legitimasi kekuasaan pada masa itu.

Saya sempat khawatir dengan tanggapan dari kelompok yang biasanya sangat reaktif dengan ajaran-ajaran agama. Syukurlah, kali ini suasananya adem. Apakah ini merupakan produk dari perubahan paradigma dari kelompok-kelompok tersebut? Atau karena ada factor politis? Perlu ada kajian lebih lanjut soal itu.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumat Kita Sekarang

Cerita Asyik Saat Musim Mudik

Mumpung perdebatan soal mudik dan pulang kampung sudah mereda (?) saya juga ingin cerita soal mudik. Tujuannya bukan untuk memperdebatkan apakah keduanya ada bedanya. Hanya ingin cerita sedikit saja sebagai mantan orang desa dan sekarang tinggal di daerah tempat asal orang mudik. Masuknya Kata Mudik Jadi, kata mudik relatif baru masuk dalam perbendaharaan kata di daerah saya, saya tidak tahu di daerah lain. Semula kita menyebutnya sebagai   “bali” (pulang). Belakangan ditambahi ndeso. Belakangan kata mudik dipopulerkan oleh para diaspora kami di Jabodetabek yang bali tadi. Jadi istilah mudik itu sebenarnya kata serapan yang menjadi populer di daerah kami karena pengaruh budaya Betawi atau budaya Jabodetabek yang menyebut ‘bali’ sebagai mudik. Pun sebenarnya penambahan kata ‘ndeso’ itu juga bukan asli dari daerah kami. Itu pengaruh dari penyebutan daerah urban atau bahkan daerah terisolasi macam daerah kami sebagai ‘ndeso’. Setahu saya dalam paradigma modernisasi yan...

doa antri di penjara