(Isto Widodo)
“Kalau ada pengamat menyampaikan bahwa yang diperjuangkan dan dilakukan
oleh pemerintah dibawah Presiden Jokowi adalah tindakan dan keputusan Goblok,
saya hanya ingat nasihat almarhum Ibu saya: Seperti pohon padi, semakin berisi
semakin merunduk, semakin kosong semakin jumawa…”
Kalimat itu ditulis oleh Menteri
Keuangan, Sri Mulyani, dalam akun facebooknya. Publik segera mengaitkan tulisan
itu dengan pernyataan ‘seorang pengamat’ yang menyebut pembelian saham atau
divestasi Freeport sebagai sesuatu yang ‘goblog’. Sangat mungkin nama pengamat
itu Faisal Basri, atau begitulah yang disebut netizen. Beberapa media menulis
wawancara mereka dengan Bang Faisal dan menekankan kata ‘Goblog” tadi. Kata itu
bahkan juga dipakai sebagian media, termasuk media yang mengatasnamakan agama tertentu,
sebagai judul agar memancing komentar, kegaduhan publik atau apapun namanya. Semakin
gaduh semakin menarik beritanya dan tentu saja membuat meraup potensi uang
menjadi semakin besar.
Bang Faisal-sebagaimana dikutip
media- mengatakan bahwa: “Ini Freeport punya Indonesia, nih, dibeli. Kan goblok!”
Kutipan itu cepat sekali menyebar. Oleh Kamprettos
ujaran Bang Faisal itu segera jadi senjata wacana. Siapa yang tidak kenal
reputasi Bang Faisal sebagai pengamat ekonomi jempolan di Indonesia? Kalau anda
tidak mengakui kemampuan beliau, tantang saja berdebat. Mungkin dia akan
melayani, tapi mungkin juga tidak, tergantung apakah dia melihat kapasitas kita
setara dengannya atau debat yang akan berlangsung akan bermanfaat atau tidak.
Yang jelas, saya termasuk orang yang mengagumi dan tentu saja mengakui
kepakaran beliau. Saya yakin sangat banyak orang yang seperti saya. Oleh karena
itu, saya memahami kalau Kamprettos menjadikan ujaran Bang Faisal itu sebagai
senjata. Tentu saja tujuannya agar Cebongers yang selama ini jumawa akan
pretasi pemerintahan Jokowi segera bungkam. Jelas tujuannya: delegitimasi!
Saya sendiri tak yakin semua Kamprettos
memahami kata-kata Bang Faisal. Pun, tidak semua Kamprettos memahami proses
divetasi yang memang berliku dan menguras energy itu. Atau, seandaianyapun para
Kamprettos tahu betapa susahnya, mereka tidak ingin mengakuinya secara terbuka
karena berbeda kepentingan dengan mereka. Kebetulan sekali ada seorang pakar
ekonomi jempolan yang mengeluarkan kata-kata ekspresif yang sesuai dengan
kepentingan Kamprettos tersebut.
Sebaliknya, Cebongers pun saya
yakin tidak memahami arti dari ‘alih kepemilikan’ Freeport ini. Pun mereka,
saya yakin, tidak semuanya memahami alternative-alternatif yang sebenarnya bisa
diambil sebagai jalan terbaik daripada hanya sekedar ‘memiliki’ Freeport. Pun lagi,
mereka tidak akan repot-repot membahas kemungkinan adanya ‘penyimpangan’ dalam
proses divestasi itu. Entah itu penyimpangan yang disengaja atau tidak sengaja.
Para Cebongers hanya ingin berjumawa mengenai keberhasilan ‘Jokowi’ yang selama
ini direndahkan habis-habisan baik secara professional maupun secara pribadi
oleh Kampretttos.
Kebetulan sekali ada tokoh bernama
Faisal Basri yang mengeluarkan kata-kata yang tidak diinginkan oleh Cebongers. Maka
upaya untuk ‘kill the messenger’
dilakukan. Para Cebongers saya tahu juga mengakui kepakaran Bang Faisal. Tapi dengan
adanya kata-kata ini, Bang Faisal seolah-olah menjadi orang yang sangat berdosa
di mata Cebongers. Bang Faisal telah menorehkan luka yang paling dalam di hati
para Cebongers. Pedih dan sangat menyakitkan!
Distorsi
Saya tidak tahu bagaimana ceritanya
sehingga kemudian Mbak Sri menulis status itu di akun FB-nya. Kita tahu, bahwa
kata-kata itu adalah ungkapan yang mewujudkan kegeraman yang sangat atas
kata-kata yang menurut Mbak Sri tidak pantas ditujukan pada mereka. Saya yakin
Mbak Sri jengkel luar biasa kepada ‘Si Pengamat’ yang telah mungkin bagi Mbak
Sri telah meremehkan atau bahkan mengingkari prestasi yang telah mereka capai
dengan susah payah itu. Jika Mbak Sri bukan seorang yang berpendidikan dan
dalam jabatan serta reputasi yang setinggi itu barangkali kata-kata balasan
yang lebih kasar akan terucap.
Saya tahu hubungan Mbak Sri dengan
Bang Faisal selama ini baik meskipun keduanya sering terlihat berbeda pendapat,
dalam pelemahan rupiah salah satu contohnya. Keduanya produk unggulan FE UI
yang punya kapasitas kugiran di negeri ini, bahkan diakui di level
internasional. Bahwa kemudian mereka sering berbeda pendapat, saya kira wajar
saja dalam perspektif professional, bukan personal. Dalam ilmu sosial dan
ekonomi, pendekatan yang berbeda memunculkan analisis masalah secara berbeda
dan tentu saja kesimpulannya bisa sangat berbeda. Jadi, menurut saya,
perdebatan professional itu tidak mencerminkan hubungan personal mereka.
Maka, ketika Mbak Sri mengeluarkan
kata-kata itu di akun Facebooknya, saya bisa membayangkan betapa terlukanya
perasaan Mbak Sri. Mbak Sri juga manusia-atau kalau boleh mengatakan dengan
kata-kata yang seksis-Mbak Sri juga seorang perempuan yang punya perasaan
halus. Setelah semua kerja keras yang melelahkan itu, tiba-tiba disebut ‘goblok’
tentu sakit sekali rasanya. Jika Mbak Sri emosional, ia bisa saja menangis
merana atau malah memaki-maki dengan kata-kata yang tidak disukainya.
Saya menduga bahwa ada distorsi
informasi dari keluarnya reaksi Mbak Sri tadi. Dan penyebab itu menurut saya
bisa jadi media, atau lebih sempit lagi, wartawan atau editornya yang menangani
berita ini. Bisa juga dari Bang Faisal sendiri. Hipotesis saya, sangat mungkin ada
pengutipan yang tidak utuh, atau sengaja/tak sengaja dipenggal/terpenggal dari
pernyataan Faisal Basri. Atau, bisa juga pernyataan Bang Faisal sendiri yang
memang tidak bisa ditangkap secara utuh oleh wartawan karena teknik komunikasi
yang tidak tepat. Yang jelas, ada distorsi informasi di situ.
Saya meneliti dan menganalisis
beberapa sumber berita yang mengutip pernyataan Faisal Basri. Ada dua kata yang
dalam berita-berita itu yang ditonjolkan sehingga seolah-olah mengabstraksi
seluruh pernyataan Faisal Basri. Dua kata itu adalah “Divestasi Freeport’ dan ‘’Goblog”.
Publik pun kemudian menangkap abstraksi keseluruhan pernyataan Faisal yang dikutip
media dengan dua kata itu. Publik heboh, sebagian karena Buzzer, sebagian karena memang tidak mengerti dan main hajar saja.
Dua kata itu juga yang sampai pada
Mbak Sri. Dugaan saya, Mbak Sri terkena imbas distorsi informasi itu, boleh
memang karena media, boleh karena memang teknik komunikasi Bang Faisal salah
atau boleh juga karena Mbak Sri sendiri tidak punya kesempatan/waktu untuk
menganalisis seluruh pernyataan Bang Faisal secara utuh.
Mengabstraksi Ulang
Saya tidak punya kesempatan untuk
melakukan klarifikasi kepada Bang Faisal, maka sumber penelitian saya untuk
melakukan klarifikasi adalah media itu sendiri. Saya mengambil naskah dari
tirto.id karena situs ini lebih menunjukkan sebagai situs yang lebih terpercaya
daripada ribuan situs yang kemudian mere-rilis pernyataan Bang Faisal tersebut.
Saya temukan pernyataan Bang Faisal
itu yang dikutip tirto.id sebagai berikut:
"Ini Freeport punya Indonesia,
nih, dibeli. Kan goblok.” Lalu diikuti kutipan tak langsung sebagai berikut:
Apa yang selama ini digembar-gemborkan
pemerintah atas pembelian 51 persen saham itu adalah "kepentingan
nasional." Pemerintah kerap mengaitkan kepemilikan mayoritas saham
Freeport dengan kedaulatan Indonesia.
Kemudian kutipan langsung lagi:
"Katanya gara-gara 51 persen
Indonesia berdaulat. Kedaulatan itu
bukan ditentukan persentase. Indonesia tetap berdaulat terhadap Freeport.
Karena apa? Aturan-aturan terkait kita buat, royalti berapa, pajak berapa, itu
kedaulatan.”
Pengutipan yang hampir sama dapat
ditemukan di situs-situs berita yang lain. Beberapa situs bahkan memotong
pernyataan Bang Faisal dengan lebih semena-mena. Maka, baiklah kita pakai
sumber di tirto.id ini saja.
Dari seluruh pernyataan Bang Faisal
tersebut, ternyata dapat dengan mudah kita temukan beberapa kata kunci. Selain ‘divestasi
Freeport’ dan ‘goblog’ ada juga ‘kedaulatan’,
‘persentase’
dan ‘aturan-aturan’.
Seluruh kata kunci itu dalam hemat saya tidak bisa dipisah-pisahkan. Pemisahan secara
semenan-mena akan mengubah keseluruhan pesan yang ingin dikemukakan oleh Bang
Faisal, apalah lagi jika ada kesengajaan untuk hanya memilih dua kata kunci dan
menghilangkan kata kunci yang lain.
Lima kata/frasa kunci itu, saya
tegaskan berhubungan dan bahkan integratif. Jika kita rekonstruksi ulang lima
kata/frasa kunci itu dengan pernyataan-pernyataan Bang Faisal sebelumnya (bisa
dibrowsing melalui Google dengan
kata kunci Faisal Basri dan Freeport), maka dapat disimpulkan bahwa Bang Faisal
sedang menyampaikan pesan-pesan sebagai berikut:
- Bahwa kepemilikan saham dominan di PT Freeport sebenarnya bukan satu-satunya jalan atau ukuran yang menunjukkan kedaulatan Indonesia. Dengan kata lain, kedaulatan itu ukurannya bukan kepemilikan saham saja, ada instrumen lain untuk menunjukkan kedaulatan yang lebih esensial yaitu kemampuan mengendalikan sehingga memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi Indonesia. Regulasi yang tegak dan kuat yang mampu memaksa atau mempunyai wibawa lebih esensial daripada ‘kepemilikan’ saham dan sejenisnya.
- Kemampuan kendali dan pengaturan ini sebenarnya inheren dalam sebuah negara. Pasal 33 UUD 1945 tidak seharusnya diartikan dalam konsep yang reduktif yaitu sebagai kepemilikan saja, tetapi lebih kepada konsep ‘menguasai’, yang artinya mengendalikan, mengatur dan tentu saja dampaknya adalah memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.
Sekali lagi, dalam pandangan Bang
Faisal, kemampuan regulasi dalam melakukan alokasi, distribusi dan redistribusi
itu lebih esensial menunjukkan kedaulatan sebuah bangsa Dengan pandangan
seperti itu, Bang Faisal menegaskan, ‘mengapa tak fokus pada penguatan
kapasitas negara dalam menerapkan fungsi regulatifnya?” alih-alih menghabiskan
banyak energi untuk memiliki saham dominan ( yang menurut perhitungannya tidak
menguntungkan juga). . Pandangannya ini mungkin sangat berbeda dengan pandangan
sebagian besar masyarakat Indonesia yang cenderung memandang kepemilikan adalah
(satu-satunya) indikasi kedaulatan.
Barangkali Bang Faisal memang
sedang geram dengan langkah-langkah divestasi saham oleh pemerintah itu
sehingga kata ‘goblok’ mungkin saja diarahkan untuk pemerintah. Tapi goblok di
sini menurut saya bukan seperti yang diartikan oleh banyak orang yaitu
seolah-olah kita membeli milik kita sendiri, padahal kepemilikan tanah, air dan
udara beserta isinya adalah inheren dan given
dalam sebuah negara. Saya yakin Bang Faisal juga tahu bahwa kepemilikan saham
dalam hal ini adalah berarti kita membeli perusahaan dengan segala instrumennya.
Semua pengamat ekonomi pasti tahu itu. Bagi saya, ketiadaan rasionalitas kita
dalam upaya menegakkan kedaulatan yang esensial itulah yang ditunjuk sebagai ‘goblog’
oleh Bang Faisal.
Karena langkah pemerintah itu bukan
langkah yang ahistoris, alias langkah yang dihasilkan oleh adanya keyakinan
kolektif, maka sangat mungkin kata ‘goblok’ tadi sebenarnya bukan semata-mata
tertuju pada Pemerintahan Jokowi, tetapi kepada kita semua, rakyat Indonesia. Ya,
rakyat Indonesia, dari sejak zaman Freeport berdiri telah secara
bersenimabungan membentuk keyakinan bahwa kepemilikan mutlak (atau minimal
dominan) atas Freeport adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar. Dengan kata
lain, ada keyakinan kolektif bahwa kepemilikan Freeport adalah satu-satunya
indikasi kedaulatan. Ini salah kaprah, bagi Bang Faisal. Sayangnya, tuntutan
dan tekanan itulah yang terus menjadi wacana mainstream di Indonesia sehingga
semua rezim berusaha memenuhi tuntutan itu, termasuk rezim saat ini. Dan Bang
Faisal, dengan segala keterbatasannya (saya mohon maaf dalam hati ketika mengetik
frasa “dengan segala keterbatasannya’ mengingat level keilmuan Bang Faisal jauh
di atas saya) berusaha mengingatkan kita akan kesalahan keyakinan kita itu.

Komentar
Posting Komentar