Kehebohan yang diawali oleh penyelidikan ‘anggaran tak wajar’ anggota
DPRD dari PSI telah dijawab oleh Anies. Kasus ini menjadi besar karena PSI dan
anggotanya serta beberapa fraksi lain menilai memang ada ketidakwajaran yang
harus dikoreksi berkaitan dengan APBD DKI. Ketika dugaan itu diekspose
besar-besaran melalui berbagai media, publik sepertinya sudah terframing dengan
opini negatif. Kesimpulan publik dari
framing negatif tersebut antara lain: Pertama,
APBD DKI Jakarta menjadi ajang korupsi dengan modus penggelembungan nilai anggaran;
Kedua, Anies ada di belakang dugaan
pertama baik kemungkinan sebagai pelaku atau kemungkinan ketidakbecusan dalam
mengawasi perilaku korup.
Media menyitir tanggapan Anies soal penyelidikan ‘anggaran tak wajar’ dengan beberapa
poin yang diketengahkan. Secara teknis, pemberitaannya cenderung mengutip jawaban yang
terpisah-pisah; Entah karena faktor teknis pemberitaan atau ada maksud lain dalam pemberitaan; atau bisa juga karena jawaban Anies sebelumnya memang tidak utuh.
Beberapa poin jawaban yang terpisah itu adalah: Pertama, Anies menyalahkan sistem yang dibuat pada periode pemerintahan sebelum dirinya; Kedua, Anies menyalahkan kesalahan input oleh anak buahnya. Dua poin inilah yang mengemuka. Tetapi sebenarnya, ada poin lain yang juga dikatakan oleh Anies. Poin itu adalah bahwa hal tersebut sebenarnya merupakan masalah teknokratis (teknis-pen) semata. Karena itu seharusnya masalah ini tidak dibawa ke arah politik.
Beberapa poin jawaban yang terpisah itu adalah: Pertama, Anies menyalahkan sistem yang dibuat pada periode pemerintahan sebelum dirinya; Kedua, Anies menyalahkan kesalahan input oleh anak buahnya. Dua poin inilah yang mengemuka. Tetapi sebenarnya, ada poin lain yang juga dikatakan oleh Anies. Poin itu adalah bahwa hal tersebut sebenarnya merupakan masalah teknokratis (teknis-pen) semata. Karena itu seharusnya masalah ini tidak dibawa ke arah politik.
Di ruang publik, ketiga jawaban itu tidak tertangkap utuh, terkesan
terpotong-potong. Publik, terutama oposan Anies menyimpulkan tanggapan Anies
itu sebagai berikut:
Pertama, Anies dianggap tidak mengerti maksud dan tujuan dari
e-budgeting yang dibuat oleh Ahok. Kesimpulan ini membawa publik untuk
menyudutkan Anies sebagai gubernur yang tidak paham teknologi bahkan bodoh.
Kedua, Anies dituding tidak punya semangat transparansi. Kesimpulan ini membawa
publik untuk menyudutkan Anies sebagai politikus yang paling tidak mendukung korupsi.
Ketiga, publik menyimpulkan Anies mencari selamat dengan menyalahkan anak buah
dan sistem. Kesimpulan ini membawa publik untuk menuding Anies sebagai
politikus yang tidak kesatria.
Jawaban Utuh Anies
CNN pada tanggal 1 November yang lalu mewancarai Anies Baswedan secara
ekslusif untuk memberikan jawaban atas penyelidikan ‘anggaran tak wajar’
beserta seluruh opini liar yang menyertainya. Dari wawancara itu kita
mengetahui jawaban Anies secara utuh. Sebenarnya poin-poinnya sama dengan jawaban
yang disitir oleh media yang kemudian terpotong-potong itu.
Beberapa poin dari wawancara CNN tersebut adalah:
Pertama, memang ada kesalahan dalam penginputan anggaran. Masalah tersebut
disebabkan oleh dua hal yaitu sistem yang belum sempurna dan faktor manusia
sebagai penginput. Sistem yang ada memang tidak memaksa penginput untuk mengisi
nilai anggaran secara wajar. Inilah yang harus diperbaiki ke depan. Dalam hal
penginput, Anies mengakui bahwa anak buahnya salah memasukkan nilai anggaran. Ada
beberapa faktornya yaitu: (1) besarnya jumlah mata anggaran, yaitu mencapai
51.000 (lima puluh satu ribu) mata anggaran. Mengisi semua mata anggaran itu
dengan nilai yang tepat memang tugas yang tidak mudah. Dengan berbagai batasan
dan tenggat waktu, sulit bagi Pemda DKI untuk mengisi secara tepat mata
anggaran satu per satu. (2) Penginputan tersebut sifatnya bukan sesuatu yang
akan menjadi produk final dalam penganggaran. Juga, bukan merupakan
satu-satunya hal yang akan menjadi obyek pemeriksaan dan pertanggung-jawaban
dalam penganggaran.
Kedua hal tersebut membuat penginputan sering tidak tepat. Para pegawai
penginput yang dituntut bekerja cepat terpaksa memasukkan nilai anggaran yang
tidak wajar demi memenuhi jumlah satuan anggaran yang telah diisi sebelumnya. Misalnya
anggaran untuk alat tulis kantor sebesar Rp 100 Milyar. Karena kesulitan
mengisi satu persatu secara terperinci maka ditulislah beberapa saja alat yang
ingin dibeli. Akibatnya nilai anggarannya bisa mencapai jumlah fantastis. Lem
Aibon seharga sekian puluh miliar
misalnya.
Ketiga, Anies mengatakan kesalahan input ini sebenarnya bukan hanya
terjadi pada era dirinya. Pada era Ahok pun kesalahan input sudah terjadi.
Anies mengutip misalnya pada era Ahok ada input anggaran penghapus sebesar Rp
53 M. Bagi Anies ini menunjukkan memang ada yang salah pada aplikasi
e-budgeting itu sendiri. Seharusnya aplikasi itu memaksa penginput untuk
memasukkan anggaran yang wajar. Penginput bisa salah atau sengaja memasukkan
nilai yang salah karena berbagai faktor.
Keempat, karena dua faktor di atas, maka sebenarnya ini hanya masalah
teknokratis semata. Untuk itu, Anies akan mengoreksi dua penyebab utama yaitu
aplikasi sistem e-budgeting itu sendiri dan faktor human error.
Kelima, Anies menyayangkan tetapi tetap menghormati masalah yang
seharusnya sangat teknokratis ini menjadi masalah publik. Ia menghormati
oposannya yang membentuk framing negatif tentang dirinya tetapi Anies juga
yakin bahwa framing itu tidak berdasar dengan pembuktian yang obyektif. . Ia
menyesalkan framing yang mengatakan bahwa ini yang pertama terjadi dan
seolah-olah pemerintahannyalah satu-satunya pihak yang berbuat kesalahan
serupa.
Jawab Yang Tepat
Jawaban Anies yang utuh dalam wawancara di CNN itu menunjukkan bahwa
Anies Baswedan menanggapi secara tepat tudingan atau framing terhadap dirinya
atau pemerintahan yang dipimpinnnya. Anies dengan baik memberikan counter
beberapa aspek yang terkait dengan ‘anggaran tak wajar’ itu, yaitu aspek teknis
dan aspek politik. Ia bersikap dengan bijak untuk menyikapi kesalahan
teknokratis. Ia bersikap bijak pula untuk menanggapi framing negatif terhadap
dirinya oleh para oposan.
Dalam perspektif komunikasi publik maupun khususnya komunikasi politik
Anies sudah memposisikan diri sebagai pejabat dan politikus yang baik dalam kasus
ini. Namun, ada satu pertanyaan yang mungkin bisa saja mengubah penilaian itu.
Pertanyaan itu adalah ‘benarkah ini masalah teknis semata?’. Jika ternyata ini
bukan masalah teknis semata maka ada beberapa dugaan yang bisa menjadi tudingan
baru: pertama, Anies memang korup
atau membiarkan sistem yang dipimpinnya korup. Penginputan anggaran tak wajar hanyalah satu dari rangkaian modus korupsi. Kedua, meski demikian, karena ini bukan hanya terjadi di masa
pemerintahannya, maka ada dugaan lain juga yang bisa muncul yaitu bahwa era
pemerintahan sebelumnya juga korup. Kalau ini ternyata yang terjadi, maka disamping masalah ini menyerang kedudukan politik Anies, maka kedudukan politik oposannya yang mendukung pemerintahan sebelumnya juga terancam.
Wallahu a’lam.

Komentar
Posting Komentar