Langsung ke konten utama

Krisis Covid-19 dan Ancaman Proteksionisme




As we fight the pandemic both individually and collective to mitigate its impact on international trade and investment, we will continue to work to deliver a free, fair, non discriminatory, transparent, predictable and stable trade and investment environment and to keep our markets open. (Joint Statement of G-20 Ministerial Level on Trade and Investment).

KTT luar biasa G-20 telah berakhir pekan lalu. Beberapa pernyataan bersama yang penting berkaitan dengan wabah Covid-19 dan dampaknya di bidang perdagangan dan investasi diserukan oleh seluruh delegasi, baik tingkat pemimpin maupun menteri. Salah satu yang menarik untuk digarisbawahi adalah keputusan untuk menjaga pasar terbuka, bebas dan adil. Pernyataan ini menjadi penting karena krisis, termasuk karena dampak wabah Covid-19 ini bisa memperkuat kembali proteksionisme oleh semua negara.

Krisis dan Proteksionisme
Proteksionisme sepanjang krisis dan saat pemulihan ekonomi pasca krisis bukanlah hal yang baru.  Pada 2007/2008 misalnya, pertemuan G-20 dan APEC juga menyerukan agar negara-negara tidak memberlakukan kebijakan proteksionis pasca krisis finansial. Keputusan-keputusan itu didorong oleh pengalaman pada masa Depresi Besar tahun 1930. Pada masa Depresi Besar, fenomena peningkatan hambatan perdagangan ditunjukkan oleh banyak negara. Herbert Hoover, Presiden Amerika Serikat waktu itu, bahkan dikenal sebagai presiden yang paling aktif mengeluarkan kebijakan-kebijakan proteksionis. Trump sering diasosiasikan dengan nama Hoover pada masa kampanye presiden tahun 2015-2016. Gejala proteksionis pada tahun 2008 dan 2009 sendiri ditunjukkan misalnya oleh kebijakan negara-negara kaya seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, perancis dan Jerman memberikan subsidi ke industri otomotif sebesar USD 45 Milyar.

Perilaku proteksionis selama dan pasca wabah diakibatkan oleh keinginan negara untuk mengintervensi pasar agar kegiatan ekonomi berjalan sebagaimana diharapkan. Pada masa krisis pasar tidak berjalan normal. Intervensi negara ke dalam pasar diarahkan untuk ‘menambal’ kegagalan pasar yang mengakibatkan kelangkaan bahkan ketiadaan pasokan maupun permintaan yang mendorong ketidakwajaran harga. Intervensi negara dalam dan sesudah krisis galibnya diprioritaskan untuk pelaku ekonomi dalam negeri karena menyelesaikan dua masalah sekaligus: mendorong dan memperkuat produksi sekaligus konsumsi warga.

Hubungan antara pandemi dengan kebijakan proteksionis belum banyak diulas. Namun yang jelas, pandemi, apalagi yang berkepanjangan jelas merupakan krisis. Analisis menunjukkan bahwa pandemic Covid-19 memberikan dampak ekonomi yang lebih parah dari krisis finansial 2008. Pada krisis 2008, pasar saham anjlok 50%, pasar kredit membeku, terjadi kebangkrutan massif, pengangguran meningkat 10% dan PDB mengalami konstraksi 10% bahkan lebih (Roubini, 2020). Wabah corona mendorong krisis lebih cepat dan lebih dalam. Hanya dalam waktu 15 hari sejak merebaknya covid-19, pasar saham anjlok hingga 20%.  Lebih parah dari pada tahun 2008, wabah Covid-19 juga mengakibatkan tekanan di pasar kredit, peningkatan bahkan ledakan pengangguran dan tentu saja perkiraan konstraksi pertumbuhan ekonomi. Indonesia sendiri melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan bahwa akibat wabah Covid-19 pertumbuhan ekonomi bahkan bisa menyentuh mimus 0,4%.

Respon dan Solidaritas Global
Kebijakan proteksionis selalu didorong oleh ketidakseimbangan relasi kekuasaan dan sumberdaya di pasar internasional. Ada beberapa kondisi yang menjadi perhatian dalam hubungannya dengan itu: pertama, seberapa besar dampak wabah ini pada tiap-tiap negara dan seberapa lama juga pemulihannya. Meskipun negara-negara maju seperti Italia dan Perancis juga mengalami tekanan yang sangat dalam, tetapi negara-negara berkembang dimasukkan sebagai negara-negara yang lebih rentan. Hal ini diakibatkan oleh lemahnya kapasitas kesehatan, kondisi sosial politik dan struktur ekonominya. Laporan di WTO dan WEF memberikan highlight pada negara-negara di Asia, termasuk Indonesia, Afrika dan Amerika Latin.

Kedua, karena sebab pertama itu, maka proses pemulihan ekonomi juga akan tidak seimbang. Salah satu dari yang diperhatikan dalam hal ini adalah China yang dianggap berhasil mengatasi wabah. Sebelum terjadinya wabah, produksi barang China menguasai pasar global. Di saat krisis seperti ini, gangguan produksi sangat mungkin terjadi di semua negara, terlebih di negara-negara rentan. Produk China akan makin membanjiri pasar dan dalam jangka panjang bisa mempengaruhi kemampuan produksi domestik yang sudah sangat tertekan sebelum krisis. Bukan hanya produk China sebenarnya, tetapi juga produk dari negara-negara yang lebih mampu menjaga mekanisme produksi dari dampak wabah akan menyerbu negara-negara yang tidak mampu. Tidak heran jika respon beberapa negara menghadapi ini adalah berusaha melakukan intervensi untuk membatasi serbuan produksi dari negara lain.

Aturan WTO memperbolehkan trade remedies berupa pembatasan sementara atau safeguards. Tetapi, penggunaannya bisa menjadi eksesif dan mengganggu arus perdagangan dan investasi dunia. Proteksionisme yang dikhawatirkan setiap terjadi krisis akan meningkat secara signifiikan. Di sinilah peran dari pernyataan bersama G-20 dalam bidang perdagangan dan investasi.

Tetapi, seperti diperkirakan, implementasinya akan sangat tidak mudah. Kepentingan masing-masing negara akan berhadapan dengan rambu-rambu pasar bebas yang telah disepakati. Akan menjadi rumit jika hambatan-hambatan perdagangan justru dilakukan oleh negara-negara kuat; sebaliknya, negara-negara kuat menekan negara berkembang untuk makin membuka pasarnya.

Solusi untuk menekan kemungkinan itu adalah pertama, masing-masing negara harus punya kerangka kebijakan ekonomi yang benar-benar komprehensif dan bisa diandalkan (reliable) untuk menghadapi dampak wabah Covid-19. Tekanan covid-19 terdapat produksi, distribusi dan konsumsi harus bisa ditekan seminimal mungkin. Kedua, penanganan terhadap wabah itu sendiri harus dilakukan secara cepat dan tepat. Berlarut-larutnya dan makin meluasnya wabah akan sangat merugikan negara tersebut. Bagi negara-negara berkembang ini akan mengakibatkan makin melemahnya kekuatan dalam pasar perdagangan dunia yang bebas.

Pemerintah Indonesia dalam KTT Luar Biasa G-20 itu menyerukan respon global untuk mengatasi wabah Covid-19. Pernyataan bersama tingkat pemimpin dan menteri mencakup usulan Indonesia itu. Kita berharap respon global itu benar-benar mencerminkan kepentingan seluruh negara. Sejauhmana tingkat solidaritas bersama seluruh negara dalam menerjemahkan respon global itu akan menentukan bentuk sistem ekonomi politik dunia pasca wabah.  
(Isto Widodo, Inspesia)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Masa Depan Program BBM Satu Harga

Masa Depan Program BBM Satu Harga Isto Widodo Pengamat Kebijakan Publik Pada Voxpol Research and Consulting Kabar mengenai kerugian Pertamina sebesar Rp 12 Triliun pada semester pertama Tahun 2017 ini menimbulkan pertanyaan: bagaimanakah kelanjutan program BBM satu harga di seluruh Indonesia? Pertanyaan ini mengemuka karena kebijakan tersebut, meskipun dinilai bertujuan bagus namun oleh beberapa pihak dianggap tidak realistis. Penyebabnya adalah besarnya biaya distribusi yang harus ditanggung Pertamina. Karena dianggap tak realistis ini, Wakil Ketua DPR Fadli Zon pernah melontarkan pernyataan skeptis mengenai keberlajutan program ini. Beban Pertamina Menteri ESDM, Ignasius Jonan, dalam sebuah wawancara di Metro TV pada bulan Juni lalu menyatakan bahwa Pertamina bisa menanggung besaran ongkos distribusi tambahan untuk program ini. Menurutnya, besar beban biaya anggaran itu selama ini hanya sekitar Rp 1 triliun per tahun untuk wilayah Papua. [1] Dengan target 16 w...

CORONA, TRACING DAN KEDIKTATORAN DIGITAL

Corona ini bikin ribet semua orang sudah tahu. Kejamnya, dia Cuma ngasih dua pilihan. Pilihan pertamanya adalah tidak mau ribet dan terancam banyak yang kena dan banyak yang mati. Sedangkan pilihan keduanya adalah, mau ribet dan memang tidak ada jaminan tidak ada yang mati. Tetapi jika sistematis maka keribetan itu bisa menekan angka kematian. Keribetan yang dimaksud adalah mempersiapkan segala sumber daya untuk menekan penularan dan kalau sudah tertular keribetannya ditambah dengan bagaimana proses isolasi dan kurasinya. Salah satu jenis keribetan jika anda tak memilih lockdown, atau anda pilih lockdown sekalipun adalah melakukan penelusuran alias tracing. Tracing adalah kunci agar penularan bisa ditekan dan juga menjadi bagian dari pemutusan mata rantai penularan. Kecepatan dan kualitas tracing akan menentukan seberapa lama dan seberapa keparahan wabah bisa ditekan. Tapi memang ribet. Semua orang tahu itu. Seratus tahun yang lalu ketika wabah Flu Spanyol mobilitas orang...

Penilaian Debat Kedua Pilpres 2019: Prabowo Unggul di Sesi Penyampaian Visi, Jokowi Unggul Dalam Sesi Eksplorasi

Disclaimer: Berikut adalah penilaian debat Pilpres 2019 kedua secara ringkas yang saya buat seiring dengan jalannya debat. Penilaian ini saya rilis 5 menit pasca debat selesai. Penilaian lebih berfokus pada aspek komunikasi politik. Secara teknis, penilaian dilakukan per pertanyaan. Bukan per sesi. Sistem penilaian mirip dengan skoring dalam pertandingan tinju: pemenang Ronde mendapat angka 10, sedangkan yang kalah mendapatkan angka 9. Bedanya, tidak ada hasil KO dalam penilaian ini. Penilaian pertama: Umum. Debat berlangsung lebih menarik dengan eksplorasi yang lebih dalam dan komunikasi antar kandidat yang lebih mengalir. Pertanyaan yang dibuat panelis sangat menarik dengan mengambil tema yang cukup spesifik, " tidak umum dalam politik Indonesia " namun merupakan masalah nyata di Indonesia. Apresiasi untuk KPU dan Tim Panelis. Pada penyampaian visi misi, Prabowo berhasil memanfaatkan kesempatan dengan baik untuk memaparkan visi misi dengan baik. Meskipun semua terd...