Langsung ke konten utama

Mitigasi Kala Wabah, Belajar dari Korea Selatan

Mitigasi Kala Wabah, Belajar dari Korea Selatan
(Isto widodo, Pengamat Kebijakan Publik Inspesia)

Malam kemarin Radio BBC menyiarkan liputan penanganan wabah Covid-19 di Korea Selatan. Berbeda dengan China yang mengisolasi total Wuhan, Korea tidak melakukan lockdown. Mereka memilih untuk melakukan rapid test tiap hari dan segera melakukan isolasi bagi mereka yang diidentifikasi positif mengidap Covid-19. Korea mampu melakukan setidaknya 15 ribu test per hari untuk warganya.

Tentu saja masing-masing kebijakan, baik yang ditempuh China maupun Korea Selatan, ada keunggulan dan kekurangannya. Tetapi di tengah tren di dunia yang ingin melakukan isolasi total alias lockdown, kasus Korea Selatan memang menarik. Pemerintah Indonesia sendiri sampai saat ini masih berusaha meniru model Korea Selatan. Sebab, tanpa lockdown, sambil menanggulangi penyebaran virus, roda ekonomi tetap bisa berjalan meskipun tentu saja tidak selancar seperti saat normal. Kebijakan itu diambil karena untuk konteks Indonesia lockdown membutuhkan sumberdaya yang besar. Sumberdaya itu dibutuhkan baik dalam pelaksanaan penanggulangan maupun untuk melakukan mitigasi ekonomi terhadap masyarakat yang rentan terdampak. Tetapi model Korea Selatan juga tidak mudah, tanpa kemampuan yang cukup, menghindari lockdown justru bisa membuat masalah menjadi jauh lebih rumit. 

Ada beberapa kata kunci mengapa Korea Selatan relatif bisa dibilang sukses menghindari lockdown: (1)  tahu apa yang dihadapi; (2) tahu apa yang harus dilakukan; (3) keputusan politik yang cepat dan tepat; (3) eksekusi yang baik, dan untuk itu mereka punya (4) dukungan data yang lengkap dan presisi serta teknologi tinggi, dan tentu saja kesadaran warga. 

Korea Selatan mengenali potensi wabah dalam tahap yang sangat awal, yaitu ketika kasus Wuhan mulai mencuat. Mereka mengambil pengalaman saat terjadi wabah-wabah serupa seperti SARS dan MERS. Korea adalah negara yang termasuk paling terdampak saat terjadi wabah MERS. Waktu itu, Korea cenderung meremehkan MERS; tidak punya informasi yang cukup, apalah lagi kesiapan untuk menghadapinya.

Karena itu, ketika Covid-19 mulai muncul di Wuhan, Keputusan politik segera dibuat dan birokrasi dengan perangkatnya yang terkoordinasi rapi melaksanakannya dengan sangat baik.  Jadi, keputusan untuk tidak melakukan lockdown adalah keputusan yang sepenuhnya rasional dan dengan perhitungan yang tepat.  Tentu mereka punya data yang cukup untuk mengambil keputusan itu. Mereka punya informasi tentang penyakit itu sendiri baik penyebab, karakter, dan pola penyebarannya. Mereka juga punya data yang cukup tentang karakter negara mereka beserta aspek-aspek yang menyertainya seperti struktur ekonomi, mobilitas, pola permukiman, dukungan fasilitas kesehatan dan lain sebagainya. 

Teknologi juga berperan besar dan dikembangkan secara berkesinambungan. Korea Selatan punya teknologi informasi yang aplikatif dalam hal ini. Mereka juga punya teknologi kesehatan yang memadai untuk mendukung mitigasi. Teknologi informasi mereka manfaatkan untuk mengidentifikasi orang yang terinfeksi, melakukan tracing, memantau pergerakan dan sekaligus menegakkan aturan baik warganya. Korea Selatan, sebagaimana China punya big data mengenai penderita maupun orang dalam pemantauan beserta perilakunya dalam masa wabah ini. Tidak lupa, teknologi kesehatan dipersiapkan dengan baik untuk membentuk sebuah sistem kesehatan masyarakat yang bisa diandalkan.

Perpaduan dari beberapa aspek itulah yang kemudian menunjukkan pameran manajemen krisis yang sangat baik oleh Korea Selatan. Dampaknya, tingkat kematian bisa ditekan dengan baik. Dari 9241 penderita yang dinyatakan positif, kematian yang terjadi ‘hanya’ 131 atau 1,4%. Angka itu di bawah rata-rata dunia. Jangan lupa, roda ekonomi juga tetap bisa berjalan dengan baik.

Mitigasi Ekonomi
Dampak ekonomi pandemi Covid-19 diperkirakan akan sama menyakitkannya dengan dampak kesehatan publik. Perdana Menteri Italia, Giuseppe Conte, memperingatkan bahwa Eropa akan mengalami resesi yang sangat parah (severe). Italia sendiri adalah negara di Eropa yang paling parah terimbas Covid-19. Di lain tempat, Amerika Serikat kehilangan 3,3 juta lapangan kerja hanya dalam sepekan. Kelangkaan juga mulai terjadi di berbagai tempat di dunia karena warga menarik diri dari aktifitas. Kelompok pra-sejahtera di semua negara termasuk Indonesia akan menjadi kelompok pertama yang merasakan dampak ekonominya. 

 Dampak sosial politik yang serius akan melanda jika semua itu tidak ditangani dengan baik. Karena itu, semua negara segera menyiapkan skenario penyelamatan ekonomi dengan dana yang sangat besar. Secara multilateral, Sidang virtual G-20 kemarin sepakat untuk menyuntikkan USD 5 triliun ke dalam perekonomian global. Amerika Serikat sendiri memberikan paket stimulus senilai USD 2 triliun, terbesar sepanjang sejarah. Singapura mengalokasikan SD 2,4 milyar dan Indonesia tidak ketinggalan memberikan Rp 27 triliun. Tetapi, besarnya alokasi dana bagi paket penyelematan ekonomi tidak selalu berhasil sebagaimana diharapkan.

Sama seperti dalam aspek kesehatan masyarakat, kemampuan semua negara untuk melakukan mitigasi ekonomi diuji dalam hal ini. Negara yang mampu melakukan mitigasi ekonomi dengan baik bukan saja akan menekan dampak wabah, tetapi juga akan mempunyai keunggulan ekonomi jangka panjang. Sebaliknya, negara yang tidak mampu melakukan mitigasi ekonomi sebagaimana harusnya, akan mengalami dampak yang lebih berat baik dalam jangka pendek, menengah maupun panjang. 

Barangkali terlalu berlebihan jika kita membandingkan dampak ekonomi politik wabah Covid-19 ini dengan wabah-wabah besar terdahulu karena konteksnya mungkin berbeda. Namun demikian, tentu saja imbas wabah terdahulu bisa dijadikan referensi untuk melihat bagaimana masa depan ekonomi politik sebuah negara, kawasan maupun global. Sejarah mencatat setidaknya 10 wabah besar pernah terjadi. Wabah pes yang dikenal sebagai Black Death pada masa abad pertengahan ikut mendorong renaissance dan kebangkitan Eropa Barat. Wabah inilah yang mengubah sistem pertanian Eropa menjadi lebih komersial sehingga kekuasaan feudal terkurangi. Dalam buku Guns, Germs and Steel, Jarred Diamond menunjukkan peran wabah dalam penjajahan dan pembantaian di Amerika Selatan. Perancis menarik diri dari Haiti karena wabah, pun Kaisar Ming dipercepat keruntuhannya karena wabah.

Globalisasi, sebagaimana dikatakan oleh Anthony Giddens dicirikan oleh relasi yang makin intens dimana sekat-sekat tradisional mengabur. Apa yang terjadi di sebuah negara akan berpengaruh di negara lain. Uni Eropa bisa jatuh lebih cepat karena wabah ini dan dampaknya akan berpengaruh ke seluruh dunia. Perlambatan ekonomi China dan Amerika Utara pun bisa berpengaruh bagi Indonesia dan seterusnya. Wabah Covid-18 juga bisa mengubah relasi antar ekonomi politik dunia, jika China bangkit terlalu cepat sementara negara-negara Barat semakin terpuruk.

Karena itu, dalam kondisi yang sudah terglobalisasi seperti itu, kemampuan melakukan krisis manajemen krisis intens dan luas macam wabah Covid-19 ini akan menentukan posisi sebuah negara dalam relasi ekonomi politik di masa depan. Inefektifitas dan inefisiensi langkah, apalagi ditambah korupsi, akan sangat merugikan. Pun kerugiannya harus ditanggung dalam jangka yang panjang. Karena itu, apapun pilihan kebijakannya, seharusnya berangkat dari rasionalitas yang didukung oleh informasi yang benar.

Belajar dari apa yang dilakukan Korea Selatan dalam aspek kesehatan publik, kunci kesuksesan mitigasi ekonomi menghadapi wabah covid-19 juga akan ditentukan oleh faktor-faktor di atas, yaitu: kemampuan mengenali dampak ekonomi, kemampuan mengenali langkah-langkah yang seharusnya diambil (proper and adequate); keputusan politik yang tepat, jelas, firm dan cepat dan kapabilitas eksekutor (baik birokrasi maupun dan pihak terkait). Semua itu tentu saja harus didukung dengan data yang memadai, baik data awal maupun data yang mencakup perkembangan kondisi. Teknologi jelas sangat membantu untuk mewujudkan hal tersebut. Mereka yang mampu mengorkrestasi semua instrumen dan sumberdaya akan keluar menjadi pemenang pasca wabah Covid berlalu.
Semoga krisis ini tidak bertambah intens dan segera berakhir. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Masa Depan Program BBM Satu Harga

Masa Depan Program BBM Satu Harga Isto Widodo Pengamat Kebijakan Publik Pada Voxpol Research and Consulting Kabar mengenai kerugian Pertamina sebesar Rp 12 Triliun pada semester pertama Tahun 2017 ini menimbulkan pertanyaan: bagaimanakah kelanjutan program BBM satu harga di seluruh Indonesia? Pertanyaan ini mengemuka karena kebijakan tersebut, meskipun dinilai bertujuan bagus namun oleh beberapa pihak dianggap tidak realistis. Penyebabnya adalah besarnya biaya distribusi yang harus ditanggung Pertamina. Karena dianggap tak realistis ini, Wakil Ketua DPR Fadli Zon pernah melontarkan pernyataan skeptis mengenai keberlajutan program ini. Beban Pertamina Menteri ESDM, Ignasius Jonan, dalam sebuah wawancara di Metro TV pada bulan Juni lalu menyatakan bahwa Pertamina bisa menanggung besaran ongkos distribusi tambahan untuk program ini. Menurutnya, besar beban biaya anggaran itu selama ini hanya sekitar Rp 1 triliun per tahun untuk wilayah Papua. [1] Dengan target 16 w...

CORONA, TRACING DAN KEDIKTATORAN DIGITAL

Corona ini bikin ribet semua orang sudah tahu. Kejamnya, dia Cuma ngasih dua pilihan. Pilihan pertamanya adalah tidak mau ribet dan terancam banyak yang kena dan banyak yang mati. Sedangkan pilihan keduanya adalah, mau ribet dan memang tidak ada jaminan tidak ada yang mati. Tetapi jika sistematis maka keribetan itu bisa menekan angka kematian. Keribetan yang dimaksud adalah mempersiapkan segala sumber daya untuk menekan penularan dan kalau sudah tertular keribetannya ditambah dengan bagaimana proses isolasi dan kurasinya. Salah satu jenis keribetan jika anda tak memilih lockdown, atau anda pilih lockdown sekalipun adalah melakukan penelusuran alias tracing. Tracing adalah kunci agar penularan bisa ditekan dan juga menjadi bagian dari pemutusan mata rantai penularan. Kecepatan dan kualitas tracing akan menentukan seberapa lama dan seberapa keparahan wabah bisa ditekan. Tapi memang ribet. Semua orang tahu itu. Seratus tahun yang lalu ketika wabah Flu Spanyol mobilitas orang...

Penilaian Debat Kedua Pilpres 2019: Prabowo Unggul di Sesi Penyampaian Visi, Jokowi Unggul Dalam Sesi Eksplorasi

Disclaimer: Berikut adalah penilaian debat Pilpres 2019 kedua secara ringkas yang saya buat seiring dengan jalannya debat. Penilaian ini saya rilis 5 menit pasca debat selesai. Penilaian lebih berfokus pada aspek komunikasi politik. Secara teknis, penilaian dilakukan per pertanyaan. Bukan per sesi. Sistem penilaian mirip dengan skoring dalam pertandingan tinju: pemenang Ronde mendapat angka 10, sedangkan yang kalah mendapatkan angka 9. Bedanya, tidak ada hasil KO dalam penilaian ini. Penilaian pertama: Umum. Debat berlangsung lebih menarik dengan eksplorasi yang lebih dalam dan komunikasi antar kandidat yang lebih mengalir. Pertanyaan yang dibuat panelis sangat menarik dengan mengambil tema yang cukup spesifik, " tidak umum dalam politik Indonesia " namun merupakan masalah nyata di Indonesia. Apresiasi untuk KPU dan Tim Panelis. Pada penyampaian visi misi, Prabowo berhasil memanfaatkan kesempatan dengan baik untuk memaparkan visi misi dengan baik. Meskipun semua terd...