Langsung ke konten utama

Cerita Asyik Saat Musim Mudik



Mumpung perdebatan soal mudik dan pulang kampung sudah mereda (?) saya juga ingin cerita soal mudik. Tujuannya bukan untuk memperdebatkan apakah keduanya ada bedanya. Hanya ingin cerita sedikit saja sebagai mantan orang desa dan sekarang tinggal di daerah tempat asal orang mudik.

Masuknya Kata Mudik
Jadi, kata mudik relatif baru masuk dalam perbendaharaan kata di daerah saya, saya tidak tahu di daerah lain. Semula kita menyebutnya sebagai  “bali” (pulang). Belakangan ditambahi ndeso. Belakangan kata mudik dipopulerkan oleh para diaspora kami di Jabodetabek yang bali tadi. Jadi istilah mudik itu sebenarnya kata serapan yang menjadi populer di daerah kami karena pengaruh budaya Betawi atau budaya Jabodetabek yang menyebut ‘bali’ sebagai mudik.

Pun sebenarnya penambahan kata ‘ndeso’ itu juga bukan asli dari daerah kami. Itu pengaruh dari penyebutan daerah urban atau bahkan daerah terisolasi macam daerah kami sebagai ‘ndeso’. Setahu saya dalam paradigma modernisasi yang salah kaprah di zaman Orde Baru, ndeso ini sering berkonotasi negatif: terbelakang! Kesan negatif tersebut masih bisa disaksikan di film-film Indonesia yang masih sering memakai ungkapan “ dasar anak kampung”, “ dasar anak desa” dan sebagainya. Ya, orang kota sering merendahkan kami dengan merujuk pada gaya hidup kami baik dari aspek produksi maupun konsumsi. Pun mereka mengejek kami karena buruknya akses segala hal: layanan publik maupun akses ‘kemewahan pasar’. Bukan hanya orang Jakarta yang bilang begitu, orang Semarang juga kadang mengejek dengan kata “ndeso” atau “kamso”.  Pokoknya, ndeso dianggap subordinasi dari kota. Ejekan itu kurang lebih mempengaruhi pemikiran dan perilaku masyarakat Indonesia pada umumnya.

Kembali pada kata mudik. Jadi intinya kami tidak mengenal kata mudik sebelumnya.  Awalnya, masuknya kata mudik dalam perbendaharaan kata itu terasa aneh, gatal dan tidak nyaman untuk diucapkan atau didengar. Tetapi ternyata kata mudik itu berguna juga. Ia menjadi penanda spesifik pada momen pulangnya para diaspora desa yang merantau ke kota secara berduyun-duyun pulang ke desa. Jadi mudik adalah momen spesifik bagi kami. Maka dalam percakapan, kata mudik tidak melambangkan pulang kampung secara umum, tetapi setidaknya mempunyai beberapa prasyarat: pertama, terjadi di kala ‘musim lebaran’; kedua, sifatnya temporer atau hanya sementara. Artinya, orang menyebut pemudik adalah mereka yang pulang ke desa atau pulang kampung untuk sementara waktu (katakanlah tiga hari atau seminggu). Sedangkan kata ‘bali’ atau ‘bali ndeso’ atau ‘pulang kampung’ bisa terjadi kapan saja dan sifatnya tidak harus temporer. Bisa selamanya bahkan. Itu terjadi jika orang yang pulang kampung itu memutuskan untuk tinggal di desa karena berbagai sebab.

Jadi ini mirip kalau kita ngaji kitab suci atau belajar di kampus. Ada yang disebut sebagai arti lughowi atau arti leksikal, ada yang disebut sebagai maknawi atau arti konseptual. Misalnya anda menyebut kata ‘sakit’ ada artinya secara kamus atau leksikal. Ada pula artinya secara maknawi atau konseptual, tergantung anda sedang mengkaji dalam lingkup ilmu apa. Kurang lebih begitulah adanya.

Monitor Radio
Sekali lagi itu penyebutan di daerah saya. Mungkin sekali berbeda untuk daerah lain. Desa mawa tata, negara mawa cara. Setiap daerah punya tata nilainya sendiri, demikian kata pepatah kami.

Kerancuan kata mudik dan pulang kampung menurut saya adalah hal biasa. Terus terang saja kita sering menggunakannya secara bergantian tanpa pertentangan maksud. Mudik ya pulang kampung, pulang kampung ya mudik. Dugaan saya, secara sosial, proses spesialisasi kata ‘mudik’ untuk menyebut sebuah momen khusus belum sepenuhnya terlembaga. Keduanya masih seringa disamakan. Bukan hanya di kalangan awam macam saya, tetapi bahkan juga di kalangan ahli. Wajar,  semua memang butuh proses.

Tetapi dalam penyelenggaraan pemerintahan rupa-rupanya spesialisasi kata itu terus berjalan, meskipun ‘tidak resmi-resmi betul’. Momen mudik menjadi urusan negara, bukan lagi semata-mata urusan pribadi. Mudik (sekali lagi merujuk pada momen lebaran), terjadi dalam lingkup massif, jumlah pelakunya bisa jutaan. Maka, tentu harus ada langkah-langkah pemerintah untuk menunjang momen budaya ini. Sejak tahun 1970, pengurusan pemerintah soal mudik ini diselenggarakan secara khusus. Intensitasnya makin tinggi seiring dengan meningkatnya arus manusia. Gunanya supaya tidak terjadi dampak merugikan misalnya kecelakaan, juga agar momen ini menjadi lebih bermakna baik secara ekonomi maupun sosial budaya.

Maka pemerintah biasanya mempersiapkan infrastruktur, ketersediaan moda transportasi, jaminan keamanan dan sebagainya. Konon tol Cipali itu itu dibikin juga salah satunya guna menunjang kelancaran mudik. Di daerah, pemerintah setempat juga mengadakan berbagai acara, misalnya pentas musik, bakti sosial, halal bi halal besar-besaran dan lain-lain. Semua proses itu tidak dipersiapkan secara khusus oleh pemerintah ketika mengacu pada kata ‘pulang kampung’ yang lebih umum.

Ya, momen mudik mempunyai konsekuensi berbeda dengan istilah ‘pulang kampung’ saja. Dan itulah serunya bagi saya. Saya suka sekali mendengarkan pantauan radio ini. Entah mengapa. Mendengar monitor radio soal mudik ini bagai mendengarkan musik terindah bagi saya. Mungkin waktu itu bagi saya seorang yang masih tinggal di desa pantauaun radio memanjakan imajinasi saya bermain membayangkan segala tetek bengek proses mudik itu. Mungkin juga karena saya yang kemudian tinggal di kota,  acara monitor mudik ini menjadi semacam penyambung informasi untuk memantau keadaan jalur mudik.

 Berbagai hal tentang mudik selalu menjadi agenda rutin RRI menjelang, saat dan setelah lebaran. Setiap jam RRI menyiarkan liputan dan bahasan tentang hal ini, setahu saya sampai sekarang. Maka, salah satu hiburan terbaik saya ketika bulan puasa  ya liputan mudik itu. Saya akan sangat kehilangan ketika akhirnya liputan lebaran atau liputan mudik itu berakhir beberapa hari pasca lebaran. Ada rasa kehilangan karena imajinasi saya tentang keseruan-keseruan soal mudik tidak lagi menjadi bagian hari-hari saya. Berakhirnya liputan mudik juga berarti berakhirnya musim lebaran. Kita harus kembali pada rutinitas hidup yang membosankan. Tetapi semua pesta memang punya waktunya sendiri, semua pesta memang harus berakhir.

Prihatinnya Lebaran Tahun Ini
Ya beginilah tahun ini. Suka tidak suka kita harus terima sebagai bagian dari perjalanan zaman. Pandemi telah menjeda momen-momen pesat mudik kita. Kita bahkan tidak bisa melakukan ritual massif seperti biasanya: ibadah di rumah, kerja pun di rumah, belajar pun di rumah. Tidak bebas lagi kita bertarawih atau berbuka puasa bersama. Pun tidak akan bebas nanti saat lebaran.

Menyedihkan? Tentu saja. Tetapi banyak hal positif yang bisa kita tarik. Bagi saya, pandemi ini bisa jadi berkah tersembunyi dalam perspektif lingkungan. Ini saatnya bumi menikmati kemewahan tanpa ribetnya manusia dengan segala konsekuensi polusinya. Ini saatnya udara segar diproduksi secara massif, ini saatnya lubang ozon memulihkan diri sedikit. Sudah lama manusia yang merasa sebagai pemimpin (khalifah) di muka bumi ini membuat kekacauan. Sudah saatnya manusia mengekang sedikit egonya ketika berhadapan dengan alam. Biasanya ego inilah yang mendefinisikan hubungan kita dengan alam. Ego inilah yang membuat alam seolah-olah hanya obyek bagi manusia.

Hikmah lainnya adalah rupa-rupanya bukan hanya mudik yang sekarang jadi urusan pemerintah, pulang kampung secara umum juga. Keduanya punya konsekuensi teknis berbeda. Kita tidak boleh mudik tahun ini. Pulang kampung bukan untuk sesuatu yang jangka pendek diperbolehkan. Mungkin karena sebagian dari kita kurang beruntung karena tidak ada lagi pekerjaan di kota atau memang ingin pulang kampung untuk membangun desa. Silakan saja.

Jadi untuk yang mudik, jangan lakukan!, sekali lagi jangan! Tidak ada protokol yang aman untuk itu saat ini. Sedangkan anda yang ingin pulang kampung dalam jangka waktu lama, silakan saja. Ada aturan kesehatan yang harus dipatuhi, utamanya soal karantina. Beberapa daerah baik secara formal maupun didorong oleh kekuatan sosial telah membuat mekanisme sendiri untuk mereka yang ingin pulang ke kampung halaman.

Demikian saja dulu. mudah-mudahan ceritanya tidak terlalu ngalor ngidup. Selamat berpuasa, dan apapun keadaannya marilah tetap optimis dan gembira.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

doa antri di penjara

Jumat Kita Sekarang

Malam Taaruf Munas IX MUI

MALAM TAARUF MUNAS IX MUI   Kesan orang luar terhadap Majelis Ulama Indonesia (MUI) seringkali salah. Selama ini MUI sering digambarkan sebagai organisasi yang "menyeramkan" dan "kolot". Sering juga MUI distigmakan sebagai organisasi tokoh-tokoh agama yang jumud dan kaku.Media berperan penting dalam membentuk itu.  Sekali lagi kesan itu tidak selalu tepat meski mungkin punya kadar kebenaran tertentu tergantung perspektif kita. Kekurangtepatan itu setidaknya nampak pada Malam Taaruf pra-Munas IX di Hotel Grand Palace, Surabaya, 24 Agustus 2015 yang lalu. Saya tiba agak lambat di tempat acara.  Ruangan seluas kira-kira 1000 meter persegi itu sudah penuh dengan peserta munas ditambah tamu undangan,  insan pers dan asisten peserta atau asisten tamu macam saya.  Tidak tampak ada kursi kosong yang tersisa, jadi saya memutuskan untuk berdiri sajadi belakang panggung utama.  Ruangan tempat acara itu sendiri sebenarnya cukup luas,  tapi melimpahnya p...