Langsung ke konten utama

MENAGIH FUNGSI DISTRIBUSI DAN ALOKASI EKONOMI NEGARA (Bagian 2)



cartoon by Lisa

Sosialisme dan Resiko Ekonomi
Sosialisme menolak argumen kapitalisme bahwa semua pencapain individual hanya merupakan usaha individu itu sendiri. Pun dengan resikonya. Benar bahwa pencapaian adalah serangkaian hasil dari tindakan-tindakan dengan resikonya masing-masing. Benar pula bahwa resiko inheren ketika pencapaian sudah teraih. Tetapi siapa yang sebenarnya telah melakukan usaha-usaha, pilihan-pilihan dan menanggung resiko-resikonya? Apakah mungkin pengejaran tujuan-tujuan individual bisa menghasilkan keseimbangan dan mewujudkan kesejahteraan bagi semua anggota masyarakat?

Bagi sosialisme, tidak ada individu atomik, individu yang benar-benar terpisah dari entitas lain. Semua entitas sosial sebenarnya terhubung dalam relasi-relasi dan pertukaran-pertukaran. Apa yang dilakukan oleh seorang individu hanya bisa menjadi gagasan dan hanya bisa terwujud jika dan hanya jika kondisi sosial memungkinkan untuk itu.

Pemikiran bahwa usaha individu hanya memakai sumberdaya pribadi dan hanya berakibat pada pribadi tersebut adalah sesuatu yang sesat pikir dalam logika sosialisme. Di paragraf di atas disebut bahwa rasionalitas hanya ada dan bisa berjalan jika dan hanya jika sistem sosial ‘mengizinkan dan memberikan konsesi’ atas rasionalitas dan tindakan rasionalitas tersebut. Oleh karena itu, ketika seorang individu berusaha, sesungguhnya ia menggunakan kondisi-kondisi yang diberikan oleh konteks sosialnya. Tidak mungkin tidak seseorang bisa bertindak tanpa hal itu. Pun dengan resiko-resikonya. Tindakan seorang individu akan memberikan imbas pada sistem sosialnya, termasuk anggota-anggota masyarakat yang lain, seberapapun besarnya, seberapapun intensitasnya.

Biaya pencapaian-pencapaian individu dengan demikian sangat kompleks dalam perspektif sosial. Ada ongkos-ongkos sosial yang luput dari pandangan kelompok kapitalis dan liberalis. Ongkos sosial itu salah satunya adalah kemungkinan penghisapan manusia atas manusia ketika terjadi ketidakseimbangan pembagian nilai antara para pemilik modal dengan para pekerja seperti yang dikatakan oleh Marx. Argumen marx soal ketidakseimbangan pembagian nilai itu berdasarkan observasinya di pabrik-pabrik dan kegiatan ekonomi yang dijalankan dengan sistem kapitalis. Sebagaimana di daerah-daerah jajahan, sebenarnya nasib pekerja di negara asal para colonial juga sangat pahit. Mereka bekerja dengan upah yang rendah dan kondisi sosial yang sangat jelek. Kita bisa menyimak kemiskinan dan penderitaan serupa pada novel-novel George Orwell.

Pengejaran tujuan individu yang menggunakan sebagian sumberdaya sosial, beresiko sosial serta belum tentu mewujudkan kesejahteraan publik ini merisaukan para pemikir sosialis. Sebagaimana kata Thomas Hobbes, para pemikir sosialis melihat bahwa argument-argumen kapitalis bisa  membawa manusia menjadi pemangsa dari manusia lain. Oleh karena itu kegiatan ekonomi, mulai dari perencanaan hingga konsumsi seharusnya dilakukan oleh negara. Dalam kutub yang ekstrem semua hal berkaitan dengan kegiatan ekonomi di lakukan oleh negara. Di sisi yang lain komunisme justru tidak percaya dengan negara karena negara dianggap hanya menjadi kepanjangan kepentingan kapitalis untuk menghisap proletar. Meskipun begitu Marx tetap merasa perlu adanya sebuah negara transisi dimana kediktatoran proletar menjadi jembatan bagi masyarakat komunis.

Jadi, kembali pada bahasan. Sosialisme percaya bahwa pencapaian dan resiko sebuah individu tidak bisa dilepaskan pada konteks sosialnya. Kecurigaan para sosialis (juga komunis) adalah bahwa semakin tinggi sebuah pencapaian oleh individu maka semakin besar pula individu tersebut memanfaatkan sumberdaya sosial, baik secara legal maupun illegal. Oleh karena itu para sosialis menetapkan batasan-batasan etik mengenai pemerataan ekonomi baik melalui mekanisme perpajakan (kebijakan fiskal) maupun melalui cara-cara lain seperti redistribusi aset. Dalam kasus komunisme bahkan hingga perebutan hak milik para borjuis untuk dibagikan kepada para proletar.

Siapa yang Benar?
Sosialisme menganggap bahwa argumen bahwa semua adalah usaha dan resiko individual adalah sesuatu yang salah secara logika, bahkan merupakan sebuah mitos. Sebaliknya, para kapitalis juga menganggap bahwa kecemburuan para sosialis terhadap kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh individu sebagai sesuatu yang tidak bisa diterima. Meskipun dalam perkembangannya, batasan-batasan etik mengenai pemerataan pendapatan dan ekonomi akhirnya diterima, tetapi jelas bahwa ekses-eksesnya selalu muncul.

Ekses pertama adalah bahwa upaya pemerataan selalu merugikan mereka yang benar-benar bekerja keras dan berkontribusi pada masyarakat. Sebaliknya, hal itu menguntungkan mereka yang bermalas-malas dan tidak menggunakan rasionalitasnya secara optimal. Sebagai contoh di negara-negara Skandinavia, para penghasil output besar dirugikan oleh mereka yang penganggur tetapi mendapatkan subsidi penuh oleh negara. Subsidi itu seringkali dimanfaatkan secara tidak bertanggungjawab dengan misalnya plesiran ke negara-negara dengan biaya hidup rendah seperti Indonesia. Mereka yang tidak berkontribusi maksimal tetapi mendapatkan pembagian atas nama ‘pemerataan ekonomi’ ini bagi para liberalis/kapitalis dianggap sebagai free rider (penumpang gelap) atau bahkan sebagai benalu.

Ekses kedua adalah sistem ekonomi menjadi tidak efektif dalam mewujudkan kesejahteraan. Karena potensi munculnya free rider besar maka, setiap orang tidak bertindak optimal dengan rasionalitasnya. Ini membuat perkembangan ekonomi lambat dan inovasi-inovasi tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya. Stimulus untuk maju berkurang bahkan tiada.

Ekses ketiga adalah sistem ekonomi itu sendiri tidak bisa jadi efisien dalam menyediakan barang publik. Masyarakat dan negara dilaksanakan oleh sistem legislative, eksekutif dan birokrasi yang semuanya harus dibiayai oleh pendapatan negara untuk bisa beroperasi. Karena sistem keputusannya harus melalui serangkaian proses untuk mendapatkan legitimasi masyarakat, maka proses untuk itu bisa berlarut-larut dan penuh drama. Tidak efisien sama sekali dari segi biaya. Banyak biaya riil yang hilang, biaya kesempatan (opportunity cost) maupun biaya waktu. Bahkan untuk menyediakan barang-barang publik seperti kesehatan dan pendidikan saja, negara sering sangat boros. Apalah lagi untuk menyediakan barang-barang privat yang lain.

Ekses keempat, kemunculan para pencari rente. Pencari rente sebenarnya adalah penumpang gelap yang memanfaatkan ketidakefisienan dan ketidakefektifan masyarakat atau negara dalam menyediakan kebutuhan masyarakat. Pada gilirannya mereka juga menjadi sumber dari ketidakefektifan dan ketidakefisienan itu sendiri. kelomp[ok-kelompok sosial hingga penyelenggara negara dihuni oleh aktor-aktor yang sebenarnya tidak sesuci dan setulus seperti yang dibayangkan oleh para sosialis. Pun para aktor itu berbeda dalam nilai sehingga sering terjadi konflik yang mengarah pada kompetisi yang tidak selalu sehat.

Ekses kelima adalah negara bukannya menjadi alat untuk mencapai kesejahteraan masyarakat, tetapi bahkan tidak memberikan insentif atau stimulus pada pasar untuk menyediakan kebutuhan masyarakat. Negara justru menjadi penghambat pasar, penghambat kegiatan ekonomi warga bahkan justru menjadi penghisap bagi kegiatan ekonomi dan warganya sendiri. sebagai contoh, pengusaha sering dibebani dengan biaya-biaya yang tinggi dan tidak rasional, dibatasi oleh peraturan-peraturan yang tidak rasional dan sebagainya. Demikian kata penganut liberalis/kapitalis.

Dengan ekses-ekses seperti yang dikemukakan di atas maka argument sosialis yang mengatakan bahwa negara akan lebih baik dalam menyediakan kebutuhan masyarakat batal dengan sendirinya. Negara bukan mesin mati yang selalu dibayangkan bekerja efektif, efisien dan hanya mengejar nilai masyarakat itu sendiri. Maka sebenarnya para liberalis/kapitalis juga tidak percaya pada negara, mirip dengan para penganut komunis. Bedanya, bagi penganut liberalis kapitalis, negara dianggap sering dianggap tidak berfungsi dalam menunjang pasar, sedangkan komunis menganggap negara sebagai alat borjuis. Meskipun dasar argument mereka bertentangan, tetapi kesimpulannya mirip. Suatu kebetulan yang aneh.

Maka para liberalis/kapitalis berusaha menempatkan fungsi negara pada sesuatu yang minimalis, hanya menyediakan barang-barang dasar seperti jaminan hak hidup, jaminan keamanan dan perlindungan properti. Negara hanya ditempatkan sebagai penjaga malam. Pada pandangan neo-liberal, banyak negara bahkan punya kewajiban untuk menciptakan kondisi yang ditetapkan oleh kerangka yang ditetapkan pasar. Para penganut neo-liberal tidak ingin negara menjadi penghambat pasar dalam menyediakan kebutuhan masyarakat secara efisien. (Bersambung)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

doa antri di penjara

Jumat Kita Sekarang

Malam Taaruf Munas IX MUI

MALAM TAARUF MUNAS IX MUI   Kesan orang luar terhadap Majelis Ulama Indonesia (MUI) seringkali salah. Selama ini MUI sering digambarkan sebagai organisasi yang "menyeramkan" dan "kolot". Sering juga MUI distigmakan sebagai organisasi tokoh-tokoh agama yang jumud dan kaku.Media berperan penting dalam membentuk itu.  Sekali lagi kesan itu tidak selalu tepat meski mungkin punya kadar kebenaran tertentu tergantung perspektif kita. Kekurangtepatan itu setidaknya nampak pada Malam Taaruf pra-Munas IX di Hotel Grand Palace, Surabaya, 24 Agustus 2015 yang lalu. Saya tiba agak lambat di tempat acara.  Ruangan seluas kira-kira 1000 meter persegi itu sudah penuh dengan peserta munas ditambah tamu undangan,  insan pers dan asisten peserta atau asisten tamu macam saya.  Tidak tampak ada kursi kosong yang tersisa, jadi saya memutuskan untuk berdiri sajadi belakang panggung utama.  Ruangan tempat acara itu sendiri sebenarnya cukup luas,  tapi melimpahnya p...