Gambar:Vectorstock
Beratnya dampak ekonomi akibat wabah Covid-19
sudah kita ketahui hanya dari angka-angka makro sederhana. Dari jumlah angka
pengangguran Amerika Serikat misalnya, sampai saat ini sudah mencatat 16 juta
pengangguran India mencapai 23% dari angkatan kerjanya, Eropa hanya sampai
akhir maret mencapai 1 juta dan bahkan Afrika diperkirakan bisa kehilangan 50%
lapangan pekerjaan. Indonesia sendiri diperkirakan sampai saat ini sudah
tercatat 1,2 juta orang menjadi pengangguran. Itu baru dari sektor formal, jika
dijumlah dengan sektor informal tentu akan lebih besar lagi.
Dunia diperkirakan akan mengalami resesi yang
cukup dalam. Maka tidak heran jika dana mitigasi dan stimulus recovery ekonomi
yang dianggarkan sangat besar. Pernyataan bersama negara-negara G-20 pada 20
Maret menyebutkan angka 5 triliun dollar. Tetapi dalam perkembangannya, sampai
saat ini Amerika Serikat saja sudah menganggarkan hingga lebih dari 4 triliun
dollar, Jepang mungkin akan mengucurkan hingga 1 triliun dollar dan Indonesia
sendiri melalui Kementerian Keuangan menyebut angka Rp 401 triliun.
Menjadi pertanyaan adalah bagaimana jika
pandemi Covid ini menjadi berlarut-larut dan seberapa kuat ekonomi sebuah
negara bisa bertahan. Pertanyaan ini muncul karena terlihat banyak negara yang
terlihat kesulitan menangani wabah ini. Dua skenario utama, baik melalui lockdown maupun non-lockdown mengandung resiko-resiko kesehatan dan ekonomi yang besar.
Lockdown memungkinkan terjadinya
wabah gelombang dua dan tiga. Sedangkan non-lockdown bisa menyebabkan jangka
waktu selesainya wabah menjadi lebih panjang.
Via Relasi Sosial
Karakter dari virus yang ditularkan dari
manusia ke manusia adalah pengaruhnya pada relasi sosial. Covid-19 ditularkan
melalui penyebaran oleh infiltrasi virus ke jaringan pernapasan dengan melalui
kontak langsung maupun semburan bersin (droplet).
Laju penyebarannya relatif sangat cepat karena ditularkan dari manusia ke
manusia itu. Dengan konektifitas dan kemudahan transportasi antar tempat serta
tingginya intensitas pertemuan manusia, maka virus ini dengan mudah tersebar ke
seluruh tempat di seluruh negara. Hanya dalam waktu tiga bulan, virus ini telah menjangkiti
lebih dari 190 negara di dunia.
Karena disebarkan melalui relasi sosial, maka
bisa diperkirakan bagaimana dampak ekonominya. Kegiatan-kegiatan ekonomi yang
dihasilkan melalui relasi sosial jelas akan sangat tertekan. Terjadi ketakutan
massal akan kemungkinan tertular.
Pembatasan relasi sosial, baik melalui lockdown
maupun non-lockdown adalah upaya
melandaikan kurva penyebaran (flattening
the curve) sehingga masih dalam batas yang bisa didukung oleh tenaga dan
fasilitas kesehatan. Diharapkan dengan begitu, ada cukup waktu untuk merawat
penderita dan menemukan obat dan vaksinnya.
Kabar buruknya adalah adanya prediksi para ahli
kesehatan bahwa wabah akan makin sering melanda dunia. Virusnyapun diperkirakan
akan makin berbahaya. Ini disebabkan
oleh kerusakan lingkungan yang kian parah. Meskipun dunia medis maju pesat,
tetapi wabah juga makin sering terjadi di dunia modern. Sejak tahun 1990-an
tercatat ada beberapa wabah besar antara lain flu burung, ebola, MERS dan
SARS-1. Covid adalah SARS-2. Kerangka kebijakan untuk menghadapi wabah-wabah di
masa depan adalah sesuatu yang harus dipersiapkan oleh semua negara.
Pada ‘Mode Kenormalan
Sementara’
Kembali dengan mengambil kasus Covid-19, tidak
mudah untuk menangani wabah dengan pola penyebaran melalui relasi sosial macam itu.
Pilihan sulit yang kita hadapi sekarang adalah antara harus membatasi relasi
sosial dengan sangat ketat dengan resiko ekonomi yang besar atau sebaliknya,
memilih ekonomi dengan kemungkinan resiko kesehatan masyarakat yang besar. Dua
pilihan itu bahkan sekarang menjadi perdebatan antara kelas menengah-atas yang
relatif aman (secure) secara ekonomi
dengan kelas bawah yang pendapatannya harian atau terbatas. Sebuah gambar
kartun meme mendeskripsikan berbedanya keadaan yang dihadapi oleh dua kelas itu
saat dilakukannya lockdown.
Berbeda dengan saat normal dimana biasanya pasar
diberikan peran besar untuk memenuhi kebutuhan, maka pada saat wabah, peran
negara dituntut menguat, terlebih jika wabah berlangsung dalam waktu yang lama.
Karena itu kapasitas negara menjadi faktor kunci, terlebih ketika harus
mengambil kebijakan yang dilematis antara aspek ekonomi dan keselamatan
manusia.
Perubahan kebijakan mendadak pada saat wabah
hanya bisa dicapai jika ada fleksibilitas pengambilan kebijakan dan sumberdaya
yang cukup untuk melaksanakannya. Wabah yang pasti terjadi di suatu saat menuntut
adanya kerangka pikir bahwa untuk beberapa waktu negara dan warganya akan
memasuki ‘mode kenormalan sementara. Fleksibilitas diperlukan karena wabah bisa
datang dengan cepat. Punya kerangka pikir menghadapi wabah dengan kebijakan
saat normal adalah sebuah langkah pengingkaran (denial) yang menjebak. Ketika wabah makin mengganas, maka satu
langkah yang salah bisa membawa konsekuensi yang serius pada jangka waktu yang
lama.
Selalu ada kesulitan untuk mengendalikan pasar
dan warga negara terutama jika pasar dan warga negara selama waktu normal ‘di
luar jangkauan negara’. Artinya, peran negara sebagai orkestrator dan penyedia
kebutuhan warganya digantikan oleh pasar atau usaha mandiri warganya. Pasar dan
warga yang di luar jangkauan negara juga berarti bahwa selama ini negara tidak
mampu membina relasi yang memadai dengan keduanya.
Tetapi sudah menjadi kewajiban negara dan
pemerintah apapun motivasi politik lain
di balik upaya itu. Baik pemerintahan otoritarian maupun demokratis akan
mempunyai fungsi optimal jika memperoleh kepercayaan (trust) dari pasar dan warganya. Kepercayaan akan timbul jika relasi
yang baik terus terbina dalam jangka waktu yang lama. Warga dan pasar punya
keyakinan bahwa pemerintahan dan negara cukup bisa diandalkan dalam berbagai
keadaan. Pada keadaan itulah peran pemerintah untuk mengorkretasi bukan hanya
organ-organnya, tetapi juga warga dan pasar akan berlangsung optimal. Dampaknya,
pengambilan dan penerapan kebijakan yang lebih fleksibel dan bisa menjawab
kedaruratan akan mudah tercapai.
Ketiadaan kepercayaan (trust) dari warga dan pasar bisa mengakibatkan munculnya
pilihan-pilihan sulit. Kondisi yang biasanya kemudian mengikutinya adalah
peningkatan penggunaan kekerasan (koersi)
oleh negara untuk mencegah atau mengatasi kekacauan. Kekacauan itu sendiri
disebabkan baik oleh satu atau dua sebab sekaligus: pertama, warga negara maupun pasar bukan hanya berkompetisi tetapi
bahkan bisa bertarung memperebutkan sumberdaya yang makin langka untuk
menyelematkan dirinya sendiri, atau; kedua,
penyelenggara negara merasa menghadapi kebuntuan dan keputusasaan untuk
menghadapi keadaan.
Ringkasnya, mempersiapkan kondisi untuk ‘mode
kenormalan sementara’ berkaitan dengan wabah adalah sesuatu yang tidak bisa
ditawar lagi oleh pemerintah manapun di masa depan. Wabah Covid-19 dan respon
banyak negara di dunia yang kurang baik saat ini memberikan pelajaran pada kita
tentang itu. Ke depan, negara manapun dengan sistem pemerintahan apapun harus
memperkuat kapasitasnya. Penguatan kapasitas akan meningkatkan kepercayaan dari
warga dan pasar sehingga pada saat memasuki ‘mode kenormalan sementara’
fleksibilitas pengambilan dan penerapan kebijakan bisa diwujudkan. Hasilnya adalah
dampak wabah akan bisa diminimalkan baik dalam perpsektif kesehatan maupun
ekonomi. (Isto Widodo, Inspesia)

Komentar
Posting Komentar