Langsung ke konten utama

MENAGIH FUNGSI DISTRIBUSI DAN ALOKASI EKONOMI NEGARA (BAGIAN 1)



Tulisan ini bisa disebut sebagai tanggapan atas data yang dibagi (dishare) dalam status Guru Saya, penulis dan budayawan Sumatera Barat terkemuka, Datuk Hasril Chaniago. Saya ditag bersama dengan banyak guru besar dan Begawan ekonomi dan sosial, salah satunya Bapak Didik Rachbini. Tentu saja saya tidak bisa disandingkan kepakaran dan reputasinya dengan beliau-beliau. Oleh karena itu tag dari seorang terkemuka dan bersama orang-orang terkemuka adalah sebuah kehormatan bagi saya.  Tanggapan sederhana ini hanyalah sedikit dari kengawuran saya yang boleh anda lewatkan jika terasa tidak berbobot atau bahkan mengganggu.

Datuk Hasril menginformasikan data terbaru yang dirilis oleh lembaga keuangan internasional terpercaya Credit Suisse. Dalam data itu disebutkan bahwa 46% kekayaan penduduk Indonesia dikuasai oleh 1% warga. Sisanya yang 545 terbagi kepemilikannya di antara 99% rakyat Indonesia lainnya. Angka ini serupa dengan cara untuk menghitung ketimpangan ekonomi sebuah negara. Ada beberapa uraian perincian lain dalam status itu. Semua data tersebut dikaitkan dengan kemampuan mitigasi ekonomi rakyat Indonesia (secara individual) menghadapi wabah corona. Pertanyaan akhir dari beliau adalah “Apa mestinya kebijakan pemerintah menghadapi kondisi ini?”

Data dan pertanyaan yang dijadikan status oleh Datuk itu menurut saya sangat relevan. Wabah corona yang punya dampak sangat besar dalam sektor ekonomi. Tidak semua orang punya daya tahan secara ekonomi. Dengan data sederhana itu, Datuk menyatakan bahwa yang punya penguasaan ‘kekayaan” terbesar akan lebih tahan secara ekonomi. Menurut beliau, hal itu tidak boleh terjadi. Dan negara (pemerintah?) seharusnya punya tindakan tertentu untuk mengatasinya. Apa yang diatasi dengan kebijakan pemerintah dalam status Datuk mungkin ambigu antara ketimpangan ekonominya atau mitigasi ekonomi akibat dari ketimpangan ekonomi tersebut. Jadi sasaran tembaknya antara satu atau dua hal tersebut atau mungkin dua-duanya. Izinkan saya menjawab lebih kepada kerangka besarnya yaitu adanya kesenjangan ekonomi. Bagian tanggapan mengenai ‘kebijakan yang seharusnya diambil pemerintah untuk melakukan mitigasi ekonomi dalam konteks kesenjangan’ akan dibahas sedikit saja nanti.

Saya kira semua orang sepakat bahwa adalah pertanyaan klasik yang berat. Dalam konteks kami berdua, pertanyaan dan tema itu juga sudah muncul sejak lama. Untuk diketahui, saya dulu pernah bekerja bersama sekaligus ‘meguru’ dengan Datuk Hasril. Dan pertanyaan itu menjadi salah satu tema utama dalam pembicaraan kami dari hari ke hari.

Ini adalah pertanyaan serius yang menyangkut pertanyaan mendasar dalam berbagai bidang, mulai dari filosofis yang berkaitan dengan ideology dan kepercayaan sosial, lingkup strategis maupun aspek-aspek teknis. Tentu saja saya tidak mungkin menjawab dengan rinci dengan memakai ‘jendela-jendela’ yang luas itu. Dalam tulisan singkat ini, saya hanya akan menanggapi dengan sedikit dari aspek ideology ekonomi penyelenggaraan perekonomian negara sesuai dengan dikotomi liberalis dan sosialis. Dikotomi dua kutub itu adalah sesuatu yang sangat klasik dan dianggap sebagai babon dari ideology ekonomi. Tentu banyak varian dengan tambahan sana sini. Pada bagian pertama, saya akan melihat dari sisi ekonomi liberal. Baru pada tulisan kedua, saya akan melihatnya dari perspektif sosialisme. Saya tidak tahu apakah tulisan ini akan berhenti pada artikel ketiga. Tetapi, pada bagian selanjutnya baru mungkin kita bisa sedikit menjawab ‘yang seharusnya’ tadi. Tentu tidak tuntas karena ini hanyalah tulisan kecil dan singkat. Masih akan ada pertanyaan-pertanyaan yang akan muncul dan harus dibahas setelahnya.

Terakhir dalam pengantar ini, saya tentu tidak mungkin menguraikan kerangka teori dan kerangka konsep ideology dan sistem ekonomi liberal/kapitalis maupun sosialis secara terperinci dan rigid seperti tulisan ilmiah. Saya hanya akan menarik ‘garis gampang’ saja antara keduanya, yaitu bahwa kalau liberal, sistem ekonomi didominasi oleh pasar. Negara hanya berfungsi dalam penyedian kebutuhan publik yang mendasar seperti jaminan hidup dan keamanan, perlindungan properti dan perlindungan kebebasan. Sosialis, sebaliknya, ingin agar kegiatan ekonomi lebih banyak dilakukan oleh negara. Ada banyak variasi dari keduanya. Dalam perkembangannya sebagian penganut dari dua ideology itu memilih ‘bertemu di tengah’. Karena rumit, maka kita sederhanakan saja bahwa liberal/kapitalis lebih mementingkan rasionalitas dan pengambilan keputusan oleh individu; sedangkan, sosialis lebih banyak memakai keputusan kolektif untuk mengambil keputusan dalam bidang ekonomi. ( Catatan: dalam tulisan ini, keputusan kolektif adalah keputusan publik melalui negara).

Kesenjangan dan Kerentanan Ekonomi Dalam Perspektif Liberal
Pertama, data dan pernyataan bahwa penguasaan aset adalah variabel satu-satunya kekuatan mitigasi ekonomi dalam krisis adalah sesuatu yang menjebak dan menyesatkan dalam pandangan penggiat liberalisme/kapitalisme. Kegiatan ekonomi oleh individu tidak bisa dipandang sesederhana itu. Ia merupakan struktur dari banyak pengetahuan dan keputusan-keputusan rasional yang dibuat oleh individu, tentu saja kerja keras untuk mencapainya. Kegiatan ekonomi juga merupakan wujud dari jejaring kerja yang dibangun atas dasar transaksi nilai-nilai antar individu.

Penguasaan aset adalah hasi dari serangkaian rasionalitas dan kerja. Akan tetapi dalam pandangan liberal/kapitalis, penguasaan aset bukan titik akhir dari ‘kekuatan ekonomi’ seperti yang dibayangkan oleh kelompok non liberal/kapitalis. Penguasaan aset tanpa tindakan ekonomi untuk memanfaatkan aset tersebut adalah sesuatu yang tidak rasional. Aset harus diinvestasikan lagi untuk menggerakkan ekonomi. Dan begitulah kegiatan ekonomi akan tumbuh.

Kedua, penguasaan aset juga merupakan struktur dari resiko-resiko yang telah dihadapi maupun akan dihadapi oleh penguasa aset tersebut. Sebagai sebuah keputusan rasional, penguasaan aset merupakan wujud dari ‘kemenangan-kemenangan kompetitif dan keunggulan komparatif’ dengan resiko masing-masing. Setiap tindakan ekonomi mempunyai resiko bawaan maupun resiko turunan masing-masing. Kapitalis yang terbaik adalah kapitalis yang mampu menekan dan memanajemen resiko paling optimal. Istilah lainnya, kapitalis terbaik adalah kapitalis yang mampu memproduksi barang dan jasa lebih efisien dari pelaku-pelaku ekonomi sejenis lainnya.

Ketiga, karena dua hal di atas, maka penguasaan aset dalam pandangan liberalis/kapitalis tidak bisa dipandang sebagai sesuatu yang tetap, ajeg dan kaku. Penguasaan aset adalah sesuatu yang dinamis yang mempunyai konsekuensi-konsekuensi logis untuk mempertahankan dan mengembangkannya. Dua konsekuensi itu membuat ekonomi masyarakat bergerak dan tumbuh. Penguasaan aset dengan demikian juga membawa resiko-resiko bawaan dan resiko turunan masing-masing. Resiko bawaan berkaitan dengan bagaimana aset itu didapatkan. Sedangkan resiko turunan berkaitan dengan konsekuensi-konsekuensi akibat dari upaya untuk mempertahankan dan mengembangkannya.

Jadi, dalam bahasa gampangnya menurut liberalis/kapitalis adalah: mendapatkan aset itu penuh resiko dan menguasai aset juga penuh resiko!  
(Bersambung).


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Masa Depan Program BBM Satu Harga

Masa Depan Program BBM Satu Harga Isto Widodo Pengamat Kebijakan Publik Pada Voxpol Research and Consulting Kabar mengenai kerugian Pertamina sebesar Rp 12 Triliun pada semester pertama Tahun 2017 ini menimbulkan pertanyaan: bagaimanakah kelanjutan program BBM satu harga di seluruh Indonesia? Pertanyaan ini mengemuka karena kebijakan tersebut, meskipun dinilai bertujuan bagus namun oleh beberapa pihak dianggap tidak realistis. Penyebabnya adalah besarnya biaya distribusi yang harus ditanggung Pertamina. Karena dianggap tak realistis ini, Wakil Ketua DPR Fadli Zon pernah melontarkan pernyataan skeptis mengenai keberlajutan program ini. Beban Pertamina Menteri ESDM, Ignasius Jonan, dalam sebuah wawancara di Metro TV pada bulan Juni lalu menyatakan bahwa Pertamina bisa menanggung besaran ongkos distribusi tambahan untuk program ini. Menurutnya, besar beban biaya anggaran itu selama ini hanya sekitar Rp 1 triliun per tahun untuk wilayah Papua. [1] Dengan target 16 w...

CORONA, TRACING DAN KEDIKTATORAN DIGITAL

Corona ini bikin ribet semua orang sudah tahu. Kejamnya, dia Cuma ngasih dua pilihan. Pilihan pertamanya adalah tidak mau ribet dan terancam banyak yang kena dan banyak yang mati. Sedangkan pilihan keduanya adalah, mau ribet dan memang tidak ada jaminan tidak ada yang mati. Tetapi jika sistematis maka keribetan itu bisa menekan angka kematian. Keribetan yang dimaksud adalah mempersiapkan segala sumber daya untuk menekan penularan dan kalau sudah tertular keribetannya ditambah dengan bagaimana proses isolasi dan kurasinya. Salah satu jenis keribetan jika anda tak memilih lockdown, atau anda pilih lockdown sekalipun adalah melakukan penelusuran alias tracing. Tracing adalah kunci agar penularan bisa ditekan dan juga menjadi bagian dari pemutusan mata rantai penularan. Kecepatan dan kualitas tracing akan menentukan seberapa lama dan seberapa keparahan wabah bisa ditekan. Tapi memang ribet. Semua orang tahu itu. Seratus tahun yang lalu ketika wabah Flu Spanyol mobilitas orang...

Penilaian Debat Kedua Pilpres 2019: Prabowo Unggul di Sesi Penyampaian Visi, Jokowi Unggul Dalam Sesi Eksplorasi

Disclaimer: Berikut adalah penilaian debat Pilpres 2019 kedua secara ringkas yang saya buat seiring dengan jalannya debat. Penilaian ini saya rilis 5 menit pasca debat selesai. Penilaian lebih berfokus pada aspek komunikasi politik. Secara teknis, penilaian dilakukan per pertanyaan. Bukan per sesi. Sistem penilaian mirip dengan skoring dalam pertandingan tinju: pemenang Ronde mendapat angka 10, sedangkan yang kalah mendapatkan angka 9. Bedanya, tidak ada hasil KO dalam penilaian ini. Penilaian pertama: Umum. Debat berlangsung lebih menarik dengan eksplorasi yang lebih dalam dan komunikasi antar kandidat yang lebih mengalir. Pertanyaan yang dibuat panelis sangat menarik dengan mengambil tema yang cukup spesifik, " tidak umum dalam politik Indonesia " namun merupakan masalah nyata di Indonesia. Apresiasi untuk KPU dan Tim Panelis. Pada penyampaian visi misi, Prabowo berhasil memanfaatkan kesempatan dengan baik untuk memaparkan visi misi dengan baik. Meskipun semua terd...