Langsung ke konten utama

Kala Duryudana dan Arjuna Rebutan Kresna




Sejenak kita lupakan dulu soal wabah Corona dan segala seluk beluk keribetannya. Kita cerita yang lain dulu; mungkin hanya sekedar cerita pengisi waktu, mungkin juga ada sedikit maknanya.

Menurut yang empunya cerita, beberapa waktu sebelum Bharatayudha dimulai, terjadi perdebatan serius antara pihak Kurawa dan Pandawa. Duryudana di pihak Kurawa dan Arjuna, Sang Menteri Luar Negeri dan Pertahanan di pihak Pandawa.

Ceritanya bermula saat Durna mengusulkan pada Duryudana agar membujuk Kresna supaya dalam Bharatayudha nanti berada di pihak Kurawa.  Durna adalah professor-nya Kurawa dan Pandawa. Ia adalah waskita yang pandangannya ‘beyond reality’. Dia tahu Kresna sangat penting perannya.

Maka berangkatlah Duryudana menemui Kresna. Sebagai raja, ia memerlukan datang sendiri mengingat kedudukan dan reputasi agung Kresna.

Di pihak Pandawa juga sedang terjadi keriuhan. Kresna selama ini memang berpihak pada Pandawa. Tetapi kadang-kadang pendapat Kresna juga tidak selalu diterima dengan bulat. Ini membuatnya galau. Kadang-kadang ia merasa diremehkan. Jadi, meskipun Kresna sayang pandawa, hatinya luka juga.

Maka ia melakukan short escape. Menyingkir dari segala tetek bengek politik,  ke hutan buat bertapa.  Tujuannya adalah untuk menghadap Sang Bathara Guru alias Sang Manikmaya.

 Pandawa risau karena merasa Kresna ngambek karena anjurannya tidak dipatuhi. Mereka khawatir itu menjadi sebab Kresna berbalik arah mendukung Kurawa. Kalau itu terjadi bisa bablas Pandawa di Bharatayudha nanti. Maka diutuslah Arjuna alias Permadi untuk menemui Kresna, membujuknya agar tetap berada di pihak Pandawa. Arjuna berangkat naik Land Cruiser yang meskipun sudah tua tetapi tetap tangguh di medan off road.

Yang ingin ditemui Duryudana dan Arjuna ternyata lagi ‘tidur’. Kresna melakukan Ngeragah sukma. Ngeragah dalam bahasa Jawa artinya, menggapai, meraih atau menjangkau ke dalam. Raganya seperti mati tetapi ia hidup. Yang hidup benar-benar jiwa alias sukmanya saja. Tidak ada lagi nafsu dan pengaruh duniawi. Dalam ngeragah sukma menurut kepercayaan Jawa seseorang bisa menemukan kesejatiannya sebagai manusia. Dengan ngeragah sukma seseorang bisa menemui Tuhan yang sebenarnya, Tuhan yang tidak bisa ditafsirkan dengan persepsi inderawi, ragawi beserta nafsu yang menyertainya.

Tetapi lupakan soal makna ngeragah sukma itu. Kita ikuti perjalanan Kresna saja.

Jadi, ketika ngeragah sukma, Kresna menemui Bathara Guru di Khayangan Suralaya. Sura artinya kemuliaan, laya artinya tempat. Ya itulah, tempat kemuliaan. Oleh Bathara Guru Kresna diyakinkan untuk tetap mendampingi Pandawa karena itu memang tugasnya. Kresna enggan meski terus dibujuk.

Di hutan tempat raga Kresna ‘tidur’ datanglah Duryudana. Ia tak memahami apa yang sedang dilakukan oleh Kresna. Ia coba bangunkan Kresna. Tidak bangun, justru Duryudana terkena ‘prawa’ pengaruh gaib Kresna saat ngeragah sukma.

Lalu datanglah Arjuna. Sang Menlu merangkap Menhan yang flamboyan ini tahu apa yang terjadi. Maklum, meskipun pemikat wanita, Arjuna juga telah menempuh berbagai sekolah baik formal maupun non formal, termasuk kursus-kursus singkat di berbagai cabang ilmu. Arjuna tidak membangunkan Kresna. Ia ikut meragah sukma. Duryudana tidak menguasai ilmu ini karena sering bolos buat nge-Mall saat Durna menyampaikan pelajaran ini. Maka Duryudana memilih nongkrong saja di warung kopi kekinian. Ia pesan dua, satu Dine-in satu take away.

Arjuna tahu tujuan ‘perginya sukma’ Kresna, yaitu Suralaya. Maka ke sanalah dia. Di sana, saat itu Kresna gagal dibujuk Bathara Guru. Masih ngambek, kedatangan Arjuna disambut agak sengak oleh Kresna.  Tetapi bukan Arjuna namanya kalau tidak bisa membujuk Kresna. Seribu bidadari saja takluk kepadanya. Di sisi lain, dalam kepercayaan Jawa, Arjuna sebenarnya adalah soul mate-nya Kresna, bukan berarti pasangan laki-laki dan perempuan, tetapi jiwa sejati yang membelah jadi dua.

Maka luluhlah Kresna.Ia terima permintaan maaf Arjuna. Kresna mau turun lagi ke bumi dan mengikuti Arjuna. Tapi tentu saja urusannya tidak semudah itu selesai.

Saat sadar, Sang Duryudana masih menunggu Kresna sambil ngopi. Arjuna juga sadar bersamaan dengan Kresna. Tanpa basa-basi menawarkan kopi, Duryudana langsung ‘nembak’ Kresna, minta Kresna berpihak pada Kurawa.

Kresna ternyata tak seperti harapan Arjuna. Ia sempat suudzan; mungkin karena Kresna ingin ditraktir kopi oleh Duryudana sehingga jadi tidak tegas. Kresna masih buka peluang untuk negosiasi dengan Duryudana. Kresna dalam hal ini melambangkan dua sosok sekaligus, antara sang bijak bijaksana atau sang politikus sejati. Sebenarnya hatinya cederung pada Pandawa, tetapi menurutnya tak elok juga menolak Duryudana secara vulgar.

Maka Kresna memberikan pilihan pada Duryudana. Begini pilihannya, “ Pada saat Bharatayudha nanti kamu pilih didukung oleh seribu raja atau saya seorang saja. Pilih salah satu tidak boleh dua-duanya.” Kata Kresna.

Tanpa pikir panjang, Duryudana pilih seribu raja. Perhitungannya sederhana saja. Seribu raja melambangkan kekuatan fisik yang luar biasa. Bayangkan, didukung 1000 negara dengan kekuatan persenjataan lengkap, dari mulai senapan, hingga senjata nuklir bahkan kimia dan mungkin juga senjata biologi macam virus atau bakteri penyebab penyakit. Sudah pasti ampuh itu kekuatan dibandingkan dengan Kresna seorang.

Maka, ketika Duryudana memilih seribu raja, tersenyum lebarlah Arjuna. Kresna sah di pihaknya. Duryudana pulang dengan puas, Arjunapun puas. Sepertinya keduanya mendapatkan win-win solution.

Durna yang mengetahui pilihan Duryudana meraung-raung. Ia goblok-goblokkan muridnya itu. Disuruhnya Duryudana kembali lagi menemui Kresna. Dengan Ojol khusus Off Road disusullah Kresna yang saat itu sudah dalam perjalanan pulang ke Amarta (ini kerajaan, bukan Perusahaan Fintech, serius!). Tapi semua terlambat. Kresna tak mau lagi mencabut kata-katanya.

Duryudana balik lagi ke Astina, melihat Durna yang masih meraung-raung menyesali pilihan Duryudana. Sambil meraung Durna menyeramahi Duryudana. katanya, tidak semua orang menyadari peran seseorang dalam kehidupan atau dalam sebuah negara. Beberapa peran terlihat tidak berarti secara teknis, tetapi sangat berarti dalam konteks sosial politik strategis. Perannya itu bahkan tidak tergantikan.

Tidak semua peran bisa dinilai dari aspek-aspek legal-formal beserta aturan-aturan administratif yang menyertainya. Satu kata kunci dari seseorang bisa mengubah sejarah selamanya. Satu sentuhan bahu yang tepat bisa mengubah jalan permainan selama-lamanya. Karena itu, meskipun dikritik keras secara teknis maupun legal formal oleh semua pihak, sebuah kedudukan atau jabatan tetap diperlukan.

Tidak semua orang bisa dipilih untuk melaksanakan peran itu. Beberapa memang menuduh pemilihan peran itu sebagai bagia dari kolusi bahkan pemburu rente. Tidak salah juga kritik itu, tetapi serius, tidak semua orang bisa dipilih untuk mendudukinya. Beberapa orang memegang ‘kunci-kunci relasi sosial’ yang diperlukan dalam pengambilan kebijakan-kebijakan strategis, terlepas dari pandangan negatif orang terhadapnya. Lucunya dunia, kadang-kadang nasib orang bukan ditentukan oleh ‘orang-orang baik’ tetapi oleh orang-orang yang punya kuasa, atau anak-anak orang yang punya kuasa.

Jadi, Pengangkatan seseorang atau beberapa orang dalam kedudukan yang secara teknis dan administratif sepertinya memang ‘tidak perlu-perlu amat’  tetapi sebenarnya sangat diperlukan bisa saja dilakukan. Tentu  saja itu harus dengan pertimbangan yang bijak juga, tergantung Bharatayudha-nya dan tergantung kunci-kunci mana yang ingin dibuka. Kedua, yang diangkat juga Kresna juga yang reputasinya sudah dikenal luas bahkan hingga di telinga para dewa. Kalau tidak ada Kresna barangkali anaknya boleh juga. Hehehe. Salam!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Masa Depan Program BBM Satu Harga

Masa Depan Program BBM Satu Harga Isto Widodo Pengamat Kebijakan Publik Pada Voxpol Research and Consulting Kabar mengenai kerugian Pertamina sebesar Rp 12 Triliun pada semester pertama Tahun 2017 ini menimbulkan pertanyaan: bagaimanakah kelanjutan program BBM satu harga di seluruh Indonesia? Pertanyaan ini mengemuka karena kebijakan tersebut, meskipun dinilai bertujuan bagus namun oleh beberapa pihak dianggap tidak realistis. Penyebabnya adalah besarnya biaya distribusi yang harus ditanggung Pertamina. Karena dianggap tak realistis ini, Wakil Ketua DPR Fadli Zon pernah melontarkan pernyataan skeptis mengenai keberlajutan program ini. Beban Pertamina Menteri ESDM, Ignasius Jonan, dalam sebuah wawancara di Metro TV pada bulan Juni lalu menyatakan bahwa Pertamina bisa menanggung besaran ongkos distribusi tambahan untuk program ini. Menurutnya, besar beban biaya anggaran itu selama ini hanya sekitar Rp 1 triliun per tahun untuk wilayah Papua. [1] Dengan target 16 w...

CORONA, TRACING DAN KEDIKTATORAN DIGITAL

Corona ini bikin ribet semua orang sudah tahu. Kejamnya, dia Cuma ngasih dua pilihan. Pilihan pertamanya adalah tidak mau ribet dan terancam banyak yang kena dan banyak yang mati. Sedangkan pilihan keduanya adalah, mau ribet dan memang tidak ada jaminan tidak ada yang mati. Tetapi jika sistematis maka keribetan itu bisa menekan angka kematian. Keribetan yang dimaksud adalah mempersiapkan segala sumber daya untuk menekan penularan dan kalau sudah tertular keribetannya ditambah dengan bagaimana proses isolasi dan kurasinya. Salah satu jenis keribetan jika anda tak memilih lockdown, atau anda pilih lockdown sekalipun adalah melakukan penelusuran alias tracing. Tracing adalah kunci agar penularan bisa ditekan dan juga menjadi bagian dari pemutusan mata rantai penularan. Kecepatan dan kualitas tracing akan menentukan seberapa lama dan seberapa keparahan wabah bisa ditekan. Tapi memang ribet. Semua orang tahu itu. Seratus tahun yang lalu ketika wabah Flu Spanyol mobilitas orang...

Penilaian Debat Kedua Pilpres 2019: Prabowo Unggul di Sesi Penyampaian Visi, Jokowi Unggul Dalam Sesi Eksplorasi

Disclaimer: Berikut adalah penilaian debat Pilpres 2019 kedua secara ringkas yang saya buat seiring dengan jalannya debat. Penilaian ini saya rilis 5 menit pasca debat selesai. Penilaian lebih berfokus pada aspek komunikasi politik. Secara teknis, penilaian dilakukan per pertanyaan. Bukan per sesi. Sistem penilaian mirip dengan skoring dalam pertandingan tinju: pemenang Ronde mendapat angka 10, sedangkan yang kalah mendapatkan angka 9. Bedanya, tidak ada hasil KO dalam penilaian ini. Penilaian pertama: Umum. Debat berlangsung lebih menarik dengan eksplorasi yang lebih dalam dan komunikasi antar kandidat yang lebih mengalir. Pertanyaan yang dibuat panelis sangat menarik dengan mengambil tema yang cukup spesifik, " tidak umum dalam politik Indonesia " namun merupakan masalah nyata di Indonesia. Apresiasi untuk KPU dan Tim Panelis. Pada penyampaian visi misi, Prabowo berhasil memanfaatkan kesempatan dengan baik untuk memaparkan visi misi dengan baik. Meskipun semua terd...