Langsung ke konten utama

SEKALI-KALI BELA PAK LUHUT



Semua pasti tahu Pak Luhut. Tak perlulah saya menguraikan bagaimana orang mengenal beliau. Ada yang suka dan banyak juga yang tak suka. Wajar.

Beberapa hari yang lalu, Pak Luhut mengeluarkan pernyataan yang ‘eksentrik’ dan sedikit ‘nakal’: beliau ingin mengundang wisatawan tiga negara, yaitu China, Korea dan Jepang. Yang dikritik oleh publik adalah itu dilakukan di saat wabah Corona yang belum jelas kapan berakhirnya.  

Tentu saja serangan publik luar biasa. Ada yang menuduh Pak Luhut lebih menguntungkan cuan daripada kemanusiaan bahkan ada yang menuduhnya sebagai pengkhianat (gak tahu apa yang dimaksud pengkhianat dalam hal ini). Kritiknya sendiri wajar untuk beberapa alasan: pertama, memang sedang terjadi wabah corona yang luar biasa. Kita tentu harus sangat berhati-hati. Mengutamakan kesehatan masyarakat jelas sesuatu yang menjadi prioritas. Kedua, apapun yang melibatkan manusia dalam jumlah banyak memungkinkan penyebaran menjadi semakin massif. Akibatnya kita tidak tahu kapan wabah akan berakhir dan kita bisa kembali pada kehidupan normal. Ketiga, tahu tidak sih kalau kapasitas pelayanan kesehatan kita sangat terbatas sehingga dengan cara apapun kurva peningkatan penderita Corona harus ditekan. Anda boleh tambahkan alasan lainnya.

Tetapi seperti judul di atas saya ingin sedikit membela Pak Luhut, ya sekali-kali. Anda boleh tidak setuju dengan saya.

Pertama-tama saya teringat buku lama David J Schwartz yang berjudul “The Magic of Thinking Big”. Buku ini adalah buku suci bagi para pemuja virus n-ach alias virus tak pernah puas. Biasanya jadi pegangan wajib motivator dan pelaku MLM.

Ada satu bagian menarik dari buku tersebut yaitu di bagian awalnya. Schwartz melemparkan pertanyaan pancingan yang kurang lebih bunyinya begini, “Bagaimana jika kita menutup penjara? Bagaimana kalau kita mewujudkan ini…bagaimana kalau kita mewujudkan itu?” Semua hal yang ingin diwujudkan adalah sesuatu yang menurut hitungan normal tidak mungkin, tetapi sebenarnya mungkin saja. Syaratnya, ya kita tidak berpikir sesuai dengan ‘keadaan normal’ tadi.

Kenormalan, kata David Schwartz membentuk kemapanan. Kemapanan membentuk alur logika dan perilaku yang tertata rapi. Akhirnya terbentuk pemikiran dan perilaku konservatif yang biasanya menolak untuk diajak berpikir di luar realitas yang telah mapan tadi. Beribu tahun orang berpikir bahwa bumi itu datar. Maka sampai pemikiran keagamaan pun didasarkan pada asumsi bahwa bumi itu datar. Beratus tahun kita berpikir bahwa manusia mustahil bisa menjelajah angkasa. Cita-cita itu jadi fiksi belaka dan ketika ada seseorang ingin mewujudkan, masyarakat menertawakannya.

Ya, kondisi normal itu meskipun asyik juga tetapi punya sisi  menjebak, yaitu menghilangkan kreatifitas dan keinginan untuk maju. Bahkan, bisa juga sesuatu yang normal membuat kita untuk menjadi bersikap fatalis. Semua sudah digariskan jadi santai saja, tak perlu kita mencari cara lain untuk mengakalinya.

Kondisi normal juga menjadi sumber diskriminasi ketika seseorang memunculkan ide-ide yang kelihatannya eksentrik atau unik. Dua makhluk yang jadi korban itu contohnya adalah Spongebob dan Patrick. Keduanya dicap Squidward Tentacle sebagai ‘gila’ , ‘tidak waras’ dan ‘abnormal’ karena tidak bisa berpikir dan berperilaku macam kelas menengah lain.

Nah, sampai sejauh ini anda pasti sudah tahu maksud saya, yaitu bahwa saya mengajak anda semua untuk melampaui pikiran-pikiran yang dibentuk oleh normalitas yang telah mapan tersebut. Saya ingin mengajak anda semua untuk melihat usul atau rencana Pak Luhut itu dilihat dari sudut pandang yang eksentrik juga.

Begini, ada peluang besar dari pariwisata, terutama berkaitan dengan wisatawan dari China, Jepang dan Korea Selatan. Untuk diketahui, China misalnya adalah pasar terbesar turis di dunia. Jumlah turisnya paling besar di dunia. Tahun 2000 hanya 4,5 juta tetapi di tahun 2018 telah menjadi 150 juta jiwa. Untuk diketahui juga bahwa wisatawan China menyumbang USD 27 milyar dalam dunia pariwisata internasional. Ya, mereka terhitung paling boros dalam pariwisata. Jepang dan Korea Selatan tentu saja tidak sebesar China tetapi sangat berpotensi untuk Indonesia. Jadi mengapa tidak menangkap peluang itu?

Kita tahu ada satu kata kunci mengapa kita tidak bisa menerima rencana Pak Luhut tadi: aspek kesehatan!

Nah berarti yang harus kita akali adalah protocol kesehatannya, masih ada peluang jika kita benar-benar bertekad.

Ada beberapa kondisi yang kita alami saat ini: pertama, kita tidak tahu kapan wabah ini berakhir. Banyak spekulasi. Meskipun banyak yang meramalkan dalam hitungan bulan, tetapi bisa juga dalam hitungan tahun. Kedua, banyak orang yang sudah tidak punya pilihan lagi untuk tidak bekerja. Pemerintah bisa memberikan bantuan ‘ala kadarnya’ sekedar untuk menyambung hidup. Tetapi sampai kapan bisa? Apa jadinya jika sektor-sektor ekonomi benar-benar tertekan? Kuatkah kita? Meminjam kata-kata kalangan bawah, “tidak mati karena korona tapi kami bisa mati karena lapar.” Kita kelas menengah boleh memandang remeh kata-kata itu, tetapi itu nyata dirasakan oleh mereka.

Ketiga, karena ketidakjelasan masa depan wabah ini, maka banyak ahli menyarankan kita untuk masuk dalam kenormalan baru, baik dalam perspektif penggunaan teknologi maupun protocol-protokol relasi sosial lainnya. Jadi, kalau kita tidak mampu bertahan secara ekonomi karena imbas corona, maka kita juga harus menganggapnya sebagai kenormalan baru yang harus ‘diakali’.
Mungkin tidak? Kenapa tidak mungkin?

Pertama, kenormalan baru ini bukan hanya persepsi kita tetapi sudah menjadi persepsi seluruh dunia. Artinya, protocol-protokol kesehatan khusus bisa diterima lebih mudah oleh para wisatawan yang ingin kita tarik. Mereka akan menganggap sejumlah pengaturan dan restriksi sebagai ‘sesuatu yang normal’. Beberapa waktu sebelum PSBB saya sempat makan malam prifat di sebuah restoran Jepang di Hotel Mulia bersama dengan pengusaha. Semua pelayannya memakai masker ketika melayani kami. Dalam kondisi normal itu bisa dianggap sebagai sesuatu yang tidak sopan. Tetapi dalam kondisi wabah kita menganggapnya sebagai sesuatu yang normal. Kita tidak bersalaman, kita duduk agak jauh dan sejumlah aturan lainnya sudah kita anggap sebagai kenormalan baru.

Kedua, kondisi kesehatan yang serba menghkawatirkan justru bisa jadi kekuatan baru jika kita bisa mengolahnya. Islandia yang sepanjang tahun didominasi oleh salju tidak berpikir normal, yaitu menjual resort yang hangat. Mereka justru menjual pesona alam bersalju yang dingin, bahkan hingga membikin hotel beku. Jadi, kenapa tidak mungkin?

Jadi kata kunci kesehatan bisa kita jadikan kata kunci pembuatan protocolnya dalam pariwisata. Sekali lagi tentu jangan berpikir normal: cara pengangkutan, penerimaan di bandara, penerimaan di wilayah, penempatan hotel, perlakuan di tempat wisata dan lain-lain. Harus ada protokolnya sendiri. juga protocol ketika kecolongan ketika ada carrier atau penderita, apa yang harus dilakukan.

Semua bisa saja dilakukan. Intinya, daripada terburu-buru menghakimi Pak Luhut sebagai ‘gila’, ‘tidak normal’ atau bahkan tuduhan keji lainnya, boleh kan kita sedikit mengubah paradigma berpikir kita. Kalau berpikir kreatif di masa susah ini kita tidak bisa, bisa jadi peluang besar itu diambil negara lain?

Jadi, kenapa tidak? Saya sedang membela Pak Luhut. Oh iya, seperti judul tulisan ini. Salam!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

doa antri di penjara

Jumat Kita Sekarang

Malam Taaruf Munas IX MUI

MALAM TAARUF MUNAS IX MUI   Kesan orang luar terhadap Majelis Ulama Indonesia (MUI) seringkali salah. Selama ini MUI sering digambarkan sebagai organisasi yang "menyeramkan" dan "kolot". Sering juga MUI distigmakan sebagai organisasi tokoh-tokoh agama yang jumud dan kaku.Media berperan penting dalam membentuk itu.  Sekali lagi kesan itu tidak selalu tepat meski mungkin punya kadar kebenaran tertentu tergantung perspektif kita. Kekurangtepatan itu setidaknya nampak pada Malam Taaruf pra-Munas IX di Hotel Grand Palace, Surabaya, 24 Agustus 2015 yang lalu. Saya tiba agak lambat di tempat acara.  Ruangan seluas kira-kira 1000 meter persegi itu sudah penuh dengan peserta munas ditambah tamu undangan,  insan pers dan asisten peserta atau asisten tamu macam saya.  Tidak tampak ada kursi kosong yang tersisa, jadi saya memutuskan untuk berdiri sajadi belakang panggung utama.  Ruangan tempat acara itu sendiri sebenarnya cukup luas,  tapi melimpahnya p...