Corona ini bikin ribet semua orang sudah tahu. Kejamnya, dia Cuma ngasih
dua pilihan. Pilihan pertamanya adalah tidak mau ribet dan terancam banyak yang
kena dan banyak yang mati. Sedangkan pilihan keduanya adalah, mau ribet dan
memang tidak ada jaminan tidak ada yang mati. Tetapi jika sistematis maka
keribetan itu bisa menekan angka kematian. Keribetan yang dimaksud adalah
mempersiapkan segala sumber daya untuk menekan penularan dan kalau sudah
tertular keribetannya ditambah dengan bagaimana proses isolasi dan kurasinya.
Salah satu jenis keribetan jika anda tak memilih lockdown, atau anda
pilih lockdown sekalipun adalah melakukan penelusuran alias tracing. Tracing
adalah kunci agar penularan bisa ditekan dan juga menjadi bagian dari pemutusan
mata rantai penularan. Kecepatan dan kualitas tracing akan menentukan seberapa
lama dan seberapa keparahan wabah bisa ditekan.
Tapi memang ribet. Semua orang tahu itu. Seratus tahun yang lalu ketika
wabah Flu Spanyol mobilitas orang jauh lebih lambat dan terbatas dari sekarang.
Di Indonesia dari Jakarta jika anda ingin pergi ke Gunung Kidul maka anda bisa
sampai dalam waktu berhari-hari.
Sekarang dunia sudah sedemikian terkoneksi. Pagi ini anda masih kongkow
di Gunung Kidul, malamnya anda sudah bisa jalan-jalan di Shibuya. Atau bangun tidur anda masih makan panada di
Makassar, Malamnya bisa sudah ada di ujung Asia. Di dalam negeri, anda juga
bisa bepergian dengan cepat. Kredit motor dan mobil demikian gampangnya jika
dibanding beberapa puluh tahun yang lalu. Jalan-jalan juga relatif bagus (meski
soal ekspektasi ‘bagus’ ini jangan terlalu tinggi juga).Belum lagi melting-melting point
dimana banyak orang bisa ketemu. Di pabrik, di Mall, di kantor, di taman, di
Rumah Sakit, di pasar, di stasiun, di persewaan PS, banyak lagi.
Dalam keadaan seperti itu penyebaran virus benar-benar bisa ‘viral’
(kata viral sendiri sebenarnya merupakan kata sifat virus yang mudah menyebar).
Maka tracing tidak mudah dilakukan. Bukan hanya Indonesia, negara-negara maju
juga kewalahan. Lihat Italia, Inggris dan Amerika; Kusut masai dalam soal tracing.
China dan Korea beberapa langkah lebih maju. Mereka pakai sistem tracing
digital. Tentu dengan penekanan kewajiban untuk terkoneksi terus. Kedua negara
itu pakai handphone dengan aplikasi khusus ditambah dengan bluetooth, saluran wifi
dan sejenisnya untuk memantau pergerakan dan status suspect, pasien; mungkin juga warga seluruh
warga wilayah. Dengan begitu dapat diketahui tingkat keamanan seseorang baik
bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain dan masyarakat.
Ini lebih mudah dan jauh lebih canggih daripada menerapkan
‘kesukarelaan’ untuk membatasi diri secara fisik dengan orang lain. Juga lebih
canggih daripada melakukan tracing dengan wawancara. Kasus di Semarang
menunjukkan bahwa pasien bisa berbohong soal status dirinya. Akibatnya empat
puluhan tenaga medis terinfeksi. Suatu kesalahan yang fatal.
Meski lebih mudah dan lebih canggih, tetapi tetap ribet juga sistem
tracing pakai handphone itu. Belum lagi kalau sistem yang mewajibkan tidak
berfungsi sebagaimana mestinya, baik secara formal maupun informal. Secara
formal melalui pelaksanaan hukum dan sanksi, secara non-formal melalui
ikatan-ikatan sosial dan tanggungjawab-tanggung jawab yang mengiringinya. Sistem
kewajiban ini juga tidak akan efektif di negara-negara dengan standard
kebebasan yang tinggi tapi ikatan dan tanggungjawab sosialnya rendah.
Mengharapkan kesadaran saja di Indonesia misalnya bisa mengacaukan seluruh
rencana mitigasi.
Karena memakai handphone tidak
cukup maka harus dicari cara lain. Sejak beberapa tahun yang lalu dimulai
ujicoba penanaman chip (chip implant)
ke tubuh manusia. Chip ini digunakan untuk berbagai macam fungsi misalnya untuk
akses, perizinan, perbankan, belanja dan berbagai fungsi data sosial lainnya.
Serba mudah karena chip selalu ada di tubuh kita (biasanya dipasang di lengan).
Status dan data diupdate secara realtime dan kita tidak takut kehilangan gawai
untuk melakukan fungsi-fungsi itu.
Cara ini juga bisa dipakai buat tracing
dalam wabah. Status dan pergerakan bisa dipantau dengan tepat dan realtime. Kalau ada pelanggaran sanksi
dengan mudah bisa diterapkan tanpa jeda atau halangan apapun. Misalnya anda
penderita dan nekat melarikan diri dari ruang isolasi. Otomatis chip dalam
lengan anda menjadi tidak bisa digunakan untuk mengakses hal-hal yang anda
inginkan. Misalnya untuk bayar tiket bus atau untuk beli cemilan di toko serba
ada. Tracing akan sangat efektif,
begitu juga sistem mitigasinya.
Arah ke sana mungkin tidak akan lama lagi. malah, corona ini bisa jadi menjadi
akselerator. Integrasi data dan transaksi semakin cepat. Suatu saat nanti semua
manusia masuk dalam data base besar
dan punya identitas tunggal (single
identity) dalam dunia digital yang melekat padanya seumur hidup, dimanapun
adan untuk keperluan apapun. Identitas tunggal ini membuat anda bisa mengakses
semua pelayanan baik itu pelayanan negara, pelayanan sosial maupun pelayanan
pasar (corporate). Identitas tunggal
dalam chip itu juga akan berfungsi sebagai malaikat pengawas sekaligus malaikat
penghukum anda. Apapun yang anda lakukan, kemanapun anda pergi, apapun yang
anda akses akan ada dalam pantauan digital. Semua tercatat, semua tersimpan dan
semua ada konsekuensinya.
Dengan chip yang tertanam sekaligus single
identity itu anda lebih terjamin keselamatannya. Juga anggota masyarakat
dari kemungkinan merugikan yang anda akibatkan. Misal soal kemungkinan
ketularan virus tadi, atau kemungkinan terorisme, atau kemungkinan gagal bayar
dan lain-lain. Dampak resiko sosial, resiko korporat dan resiko negara bisa
ditekan. Tracing dan tindakan
preventif maupun kuratif jauh lebih sederhana dan mudah.
Ada keuntungan besar dari penerapan teknologi dalam sistem tracing. Tapi
dengannya berarti makin anda juga makin mudah dikendalikan oleh siapapun yang
menguasai sistem itu. Kebebasan yang anda dapatkan dalam ‘keadaan normal’ tidak
akan mudah anda dapatkan dalam keadaan sistem yang sangat terkendali itu.
Akibatnya anda tidak bisa bertingkah ‘ yang aneh-aneh’ yang tidak sesuai dengan
sistem yang terkendali itu. Tidak seperti sekarang dimana ada banyak ruang
untuk ‘aneh-aneh’ tadi.
Dampaknya bukan hanya dalam lingkup pribadi tetapi juga dalam lingkup
sosial dan penyelenggaraan negara. Demokrasi sepuluh atau dua puluh tahun lagi
sangat mungkin tidak seperti yang pernah kita bayangkan dulu, mungkin juga
sudah tidak ada lagi demokrasi. Semua diselesaikan secara teknis. Sistem
partisipasi dianggap tidak legitimate ketika berhadapan dengan algoritma sosial
maupun algoritma pribadi yang tersimpan rapi. Misalnya aspirasi sebuah
masyarakat ingin dibangunkan gedung olahraga tetapi data menunjukkan bahwa
masyarakat lebih butuh mall. Pembangunan gedung olahraga ditolak, diganti
dengan mall. Berabe,? Memang.
Demokrasi juga akan makin jauh karena jelas sistem yang sangat
terkendali itu tidak bisa disediakan sembarang pihak. Hanya aktor yang punya
sumberdaya teknologi yang bisa. Itu juga tidak harus negara, korporat jelas
bisa. Bahkan fungsi negara yang makin mengabur pada era globalisasi ini suatu
saat benar-benar hilang, digantikan oleh kerja korporat-korporat. Dimanakah hak
politik warga pada keadaan seperti itu?
Ya, demokrasi bisa jadi akan hilang, digantikan oleh kediktatoran
berbasiskan teknologi, kediktatoran digital.
Anda menganggap saya melantur? Mungkin saja. Tetapi melihat perkembangan
teknologi dan penerapannya mungkin kondisi itu tidak akan lama lagi kita
jelang. China sudah menerapkan sistem ini meskipun masih dalam tahap sangat
awal. Semua data warga negara dikuasai dan diterapkan dalam hampir semua bidang
kehidupan. Warga negara terpantau ketat. Sistem tracing menjadi satu dari
bagian konstruksi kediktatoran digital yang akan semakin dalam dan semkain masif
di masa depan.
Bagaimana dengan Indonesia? Menurut saya hanya soal waktu saja. Kita
tidak mungkin menolaknya. Suatu saat kendali penuh dengan tracing ketat akan
menjadi bagian kehidupan kita. Ini arus yang tidak bisa dibendung. Tak usah
menolak, hanya berusahalah bahwa kita masih punya sisi kemanusiaan dalam era
yang sangat terkendali itu. Selalu ada peluang bagi kemanusiaan dalam kondisi
apapun. Semoga!

Mantapp kang, tulisan ini pernah mewarnai kegelisahan saya 2 tahun lalu, ditempat sy kerja kedatangan anak anak muda IT yg menawarkan jasa pemantauan karyawan berbasis android, dimana sy bisa melihat mereka kemana pada hari kerja efektif 8 jam itu, tawaran itu sy tolak mentah2 karena ideologi yg sy anut. Mana mungkin atas nama koorporasi sy memasuki ruang privat seseorang, membatasi hak kemanusiaannya, itu bayangan sy dulu.
BalasHapussiyaapp. bergerak untuk selamatkan demokrasi dan kemanusiaan, Bang.
Hapus